Dalam legenda Babad Pasir Luhur, tokoh Raden Kamandaka (yang merupakan penyamaran dari putra mahkota Pajajaran) memiliki kisah yang sangat erat dengan ayam jago dan tradisi sabung ayam. Ayam peliharaannya tidak hanya menjadi sumber penghidupan selama masa pelarian, tetapi juga menjadi pusat insiden pertempuran besar melawan musuh-musuhnya.
Kisah pelarian ini tercatat dalam literatur klasik, salah satunya oleh Knebel, J. (1898) dalam Babad Pasir, volgens een Banjoemaasch handschrift, met vertaling (Batavia: Albrecht & Co. / ‘s Hage: M. Nijhoff). Dalam catatan tersebut, dikisahkan bahwa setelah lolos dari kepungan prajurit istana Pasir Luhur, Raden Kamandaka bersembunyi di rumah seorang janda miskin bernama Nyai Kertasara di sebelah utara ibu kota. Janda tersebut memberinya seekor ayam jago yang kemudian sering dibawa Kamandaka ke berbagai arena sabung ayam untuk menyambung hidup.
Ayam kesayangan itu diberi nama Mercu. Mercu bukanlah ayam sembarangan; ia digambarkan sebagai ayam jago yang sangat indah dengan bulu memiliki tiga warna berbeda. Di setiap arena, Mercu selalu keluar sebagai pemenang. Kemenangan demi kemenangan ini memberikan penghasilan besar bagi Kamandaka dan Nyai Kertasara.
Kamandaka sangat menyayangi ayam jagonya. Siang dan malam, Mercu selalu berada di dekatnya. Bahkan saat tidur, kurungan (kandang) ayam tersebut diletakkan tepat di samping tempat peraduannya.
Menurut babad, kurungan ayam milik Raden Kamandaka tersebut kelak bertunas dan tumbuh menjadi rumpun bambu yang cabang-cabangnya menyebar luas. Peristiwa inilah yang diyakini menjadi asal-usul nama sebuah pedukuhan di wilayah tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Kurungayam.
Kabar bahwa Kamandaka masih hidup dan sering menyabung ayam akhirnya terdengar oleh Raden Silihwarna (utusan Adipati yang ditugaskan untuk membunuh Kamandaka). Silihwarna kemudian melacak keberadaannya hingga ke arena sabung ayam di Desa Panjebatan (diperkirakan saat ini adalah desa Pangebatan di kecamatan Karanglewas)..
Di arena tersebut, Kamandaka datang bersama pelayannya, Ki Rekajaya, yang bertugas membawakan Mercu. Silihwarna, yang saat itu belum mengenali wajah asli Kamandaka, menantang ayam tiga warna tersebut untuk diadu dengan ayam miliknya.
Para penonton sangat mendukung Kamandaka karena melihat fisik Mercu yang jauh lebih besar dan tangguh. Kamandaka menerima tantangan tersebut dengan syarat ia sendiri yang akan menangani ayamnya di tengah gelanggang.
Sebelum diadu, kedua ayam dimandikan terlebih dahulu. Ayam milik Silihwarna diurus oleh Nitipraja, sedangkan Mercu diurus oleh Ki Rekajaya. Namun, alih-alih melepaskan ayamnya untuk bertarung secara sportif, Silihwarna justru dengan sengaja melemparkan ayamnya langsung ke arah dada Kamandaka.
Ayam tersebut meleset dan mengenai lambung kiri Kamandaka. Taji (pisau kecil) yang diikatkan di bawah sayap ayam itu melukai tubuh Kamandaka hingga berdarah. Merasa murka karena seumur hidup darahnya belum pernah tertumpah, Kamandaka langsung menangkap ayam milik Silihwarna yang bernama Kilat tersebut. Ia memukul dan membanting ayam Kilat ke tanah hingga mati seketika.
Insiden kematian ayam Kilat memicu kemarahan Silihwarna. Ia menghunus kerisnya dan menyerang Kamandaka, yang kemudian dibalas oleh Kamandaka menggunakan tongkat Cis saktinya. Pertarungan sengit di arena Panjebatan pun pecah, menyebabkan para penonton lari kocar-kacir.