Kolaborasi Konservasi Lingkungan, PT. Dinar Batur Agung & Yayasan Alam Wana Nusantara Tanam Vetiver & Balsa

BANYUMAS — Upaya konkret menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Yayasan Alam Wana Nusantara bersama PT. Dinar Batur Agung melakukan aksi penanaman rumput vetiver dan pohon balsa sebagai bentuk tanggung jawab ekologis atas kekhawatiran warga terkait dampak aktivitas pertambangan granit di wilayah tersebut.

Aksi penanaman dilakukan sebagai respon langsung terhadap meningkatnya kecemasan masyarakat terhadap potensi erosi, perubahan morfologi lahan, dan ancaman limpasan permukaan (run off), terutama di tengah curah hujan ekstrem yang belakangan sering terjadi.

Menjawab Kekhawatiran dengan Tindakan Nyata

Sebagian warga sebelumnya menyuarakan aspirasi untuk menghentikan total aktivitas pertambangan. Namun, Yayasan Alam Wana Nusantara menilai bahwa solusi terbaik bukan sekadar menolak penambangan, melainkan memastikan bahwa kegiatan tersebut dijalankan secara bertanggung jawab dan sesuai prinsip Good Mining Practice (GMP).

“Kami ingin menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, bukan sekadar polemik. Vetiver dan balsa adalah pendekatan ekologis untuk memperkuat bentang alam, mengurangi risiko erosi, dan mengelola air permukaan secara alami,” ujar pembina Yayasan Fery Tri Yuliadi dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan ini ditanam dua jenis tanaman kunci:

Rumput Vetiver (Chrysopogon zizanioides) — Memiliki akar serabut hingga >3 meter, efektif mengikat tanah, menstabilkan lereng, dan memperlambat aliran permukaan.

Pohon Balsa — Jenis cepat tumbuh dengan kemampuan memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan infiltrasi air.

Keduanya diyakini efektif sebagai penahan erosi, pengurang sedimentasi, dan pengelola run off untuk menekan risiko bencana lingkungan.

Yayasan Alam Wana Nusantara juga mengingatkan mengenai biaya peluang (opportunity cost) apabila permintaan penghentian pertambangan dihentikan secara drastis. Potensi kerugian tersebut meliputi:

Hilangnya lapangan pekerjaan bagi warga lokal

Penurunan pendapatan desa dan PAD Terganggunya pembangunan infrastruktur

Meningkatnya risiko penambangan ilegal

“Yang kita butuhkan bukan stop mining, tetapi right mining — pertambangan yang dilakukan dengan kaidah lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berimbang,” tegasnya.

Pertambangan Bisa Selaras dengan Konservasi Yayasan menekankan bahwa pertambangan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan melalui:

Reklamasi dan revegetasi berkelanjutanP engelolaan air tambang dan limpasan air hujan Penataan lereng sesuai aspek geoteknik Monitoring kualitas tanah dan air secara rutin Pelibatan masyarakat dalam pengawasan

Aksi penanaman yang dilakukan hari ini menjadi simbol bahwa kolaborasi multipihak dapat menghasilkan solusi ekologis tanpa mengorbankan manfaat ekonomi masyarakat.

“Kami hadir bukan untuk berpihak pada siapa pun, tetapi untuk menghadirkan solusi. Penanaman vetiver dan balsa adalah pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama—masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha. Pertambangan bisa tetap ada selama dijalankan dengan standar terbaik dan memberi manfaat bagi Desa Baseh,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Alam Wana Nusantara mengajak semua pihak untuk mengedepankan kolaborasi, data ilmiah, dan pemahaman ekonomi agar pembangunan berjalan seimbang dan berkelanjutan.

Aksi penanaman vetiver dan balsa ini diharapkan menjadi langkah awal menuju model pertambangan ramah lingkungan yang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain di Indonesia.