Bersama Astra Desa Rempoah Menyulap Sampah Jadi Sumber Kehidupan

KERAJINAN : Pelatihan pembuatan kriya dari serat pelepah pisang bersama kades rempoah(b murtini) pemilik UMKM Griya Watik Desa Rempoah

BANYUMAS — Hamparan hijau dan udara di kebun, awah di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Banyumas terasa sejuk. Desa yang terletak di lereng Gunung Slamet ini tak hanya dianugerahi keindahan alam.

Namun segenap warganya juga kompak mengelola lingkungan. Tak ada sampah berserakan ata aliran air sunagai yang kotor. Pengelolaan lingkungan terutama sampah telah dikelola dengan mekanisme kerja terorganisir hingga menjadi sumber pendapatan dan menopang kehidupan.

Sampah yang kerap diasosiasikan dengan kotor kumuh, namun justru kini jadi salah satu sumber kehidupan.

Sampah kini diolah menjadi berbagai macam mulai pupuk organik, produksi magot, hingga kerajinan.

Desa ini merupakan salah satu desa yang bekerjasama dengan Astra melalui program Kampung Berseri Astra.

Bahkan Desa Rempoah pernah meraih juara 1 Lomba Gerakan Bersama Sadar Iklim Kampung Berseri Astra (Generasi KBA) Video Profil Lokasi Proklim tahun 2022.

Meski pernah meraih juara, dan di gelar festival pada tahun 2023 lalu, para pegiat di desa Rempoah tak pernah berhenti. Hingga kini program masih tetap berjalan.

Adalah Ragil Wahyu Utomo adalah Ketua Program Kampung Iklim (Proklim) Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Pria kelahiran Rempoah tahun 1985 ini dikenal sebagai penggerak lingkungan yang konsisten membangun kesadaran warga terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan adaptasi perubahan iklim.

Ragil Wahyu Utomo

Sejak 2018, Ragil aktif memimpin berbagai inisiatif lingkungan berbasis komunitas, seperti pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), budidaya maggot, hingga inovasi energi terbarukan sederhana di tingkat desa.

Latar belakangnya sebagai aktivis sosial dan kader lingkungan menjadikannya sosok yang dekat dengan warga. Ia kerap turun langsung ke RT-RT untuk mengedukasi masyarakat, membangun sistem iuran sampah berbasis partisipasi, dan menghubungkan gerakan warga dengan dukungan pemerintah maupun swasta.

Di bawah kepemimpinannya, Desa Rempoah berhasil meraih penghargaan nasional Proklim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjadikannya contoh desa ramah lingkungan di lereng Gunung Slamet.

Saat suarabanyumas.co.id berkunjung ke TPST, dari balik bangunan sederhana di tepi jalan desa, terdengar suara mesin pencacah dan tawa warga yang sibuk memilah sampah. Di sinilah, kehidupan baru itu dimulai — dari tumpukan limbah rumah tangga yang dulu dianggap tak berguna.

Beberapa tahun lalu, pemandangan Rempoah sangat berbeda. Sampah menumpuk di sungai, saluran tersumbat, dan kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan masih rendah. Kini, cerita itu berubah drastis.

Semangat gotong royong dan dorongan program Kampung Berseri Astra (KBA), Rempoah menjelma menjadi laboratorium hidup pengelolaan sampah terpadu yang menjadi rujukan nasional.

Puluhan Ton Sampah Diolah Setiap Hari

Setiap hari, sekitar delapan ton sampah masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Rempoah. Angka itu berasal dari sepuluh Rukun Tetangga (RT) dengan total sekitar 8.000 jiwa.

“Kami bisa menangani sekitar 95 persen sampah warga di tingkat desa. Artinya, hampir tidak ada lagi sampah yang dikirim ke kota,” ujar Ragil.

Menurut Ragil, sistem yang berjalan di Rempoah berawal dari prinsip sederhana: semua jenis sampah harus punya nilai. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot, sementara sampah anorganik didaur ulang menjadi kerajinan, pot bunga, hingga bahan bangunan. Bahkan plastik yang semula dianggap limbah, kini disulap menjadi lilin dan bahan bakar alternatif.

Adi Prabowo kordinator TPST Desa Rempoah

“Dulu warga buang sampah sembarangan, sekarang mereka malah rebutan setor sampah karena tahu nilainya,” kata Ragil tersenyum.

Hal ini tentu sejalan tagline dari Astra tahun ini, ” terus bergerak memberi dampak” telah menjadi wujud nyata di DesabRempoah.

Dari Kelola Sampah ke Desa Ekowisata

Keberhasilan dalam mengelola sampah membuka babak baru bagi Rempoah. Desa ini kini mengembangkan eco-eduwisata, tempat belajar tentang ekonomi sirkular.

Setiap pekan, ratusan pengunjung datang: mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga perangkat desa dari berbagai daerah. Mereka belajar memilah, mengolah, dan menanam — semua di bawah bimbingan warga lokal.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa bumi ini bisa dijaga lewat hal sederhana — mulai dari memilah sampah di rumah,” tutur Ragil.

Beberapa kelompok pemuda kini mengelola budidaya maggot dan hidroponik, sementara ibu-ibu rumah tangga membuat produk daur ulang seperti tas dan kerajinan dari plastik bekas. Pendapatan tambahan pun mengalir.

Bahkan, menurut Ragil, Rempoah mulai dikenal bukan hanya karena bersih, tapi juga karena “menghidupi” banyak warganya. “Sekarang banyak yang datang belajar ke sini, bahkan dari luar Jawa. Dulu kami belajar, sekarang kami yang mengajar,” ujarnya bangga.

Sinergi Astra dan Pemerintah

Transformasi besar Rempoah tidak terjadi begitu saja. Sejak ditetapkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA), desa ini mendapat pendampingan intensif dari program Bina Lingkungan Astra.

Program tersebut berfokus pada empat pilar: pendidikan, kewirausahaan, kesehatan, dan lingkungan. Ragil menyebut, tiga dari empat pilar itu kini sudah terwujud dengan hasil nyata.

“Lingkungan kami bersih, ekonomi warga meningkat, dan kesadaran pendidikan tumbuh. Sekarang kami fokus ke kesehatan, terutama menekan angka stunting,” katanya.

Menurut ragil saat ini masih ada balita stanting, target kami bisa nol persen. Hal itu jadi komitmen hingga 2028 mendatang, sesuai MoU dengan Astra.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Banyumas yang menjadikan Rempoah sebagai model desa hijau. Bupati sebelumnya, yakni Achmad Husein pernah mengatakan bahwa perubahan di Rempoah menjadi bukti bahwa isu perubahan iklim bisa dijawab dari tingkat desa.

“Dulu Purwokerto sejuk, sekarang panas. Jadi apa yang dilakukan Rempoah ini bukan cuma soal sampah, tapi soal masa depan,” ujar Bupati dalam Festival Lingkungan Astra 2023 lalu.

Puncak dari semangat hijau itu terlihat dalam Festival Lingkungan Astra yang digelar di Rempoah pada 25 Juni 2023 lalu. Warga memamerkan inovasi daur ulang, karnaval kostum dari limbah, dan aksi tanam pohon.

Dalam festival bertema “Jaga Bumi, Jamin Masa Depan” itu, Astra meresmikan pemasangan panel surya di peternakan komunal dan menanam pohon produktif di lahan 100 hektar di wilayah Banyumas.

Meskipun panel surya yang dulu terpasang kini tak berfungsi maksimal karena batrei yang mati. Namun hal itu bisa diatasi dengan mengganti batrei yang baru.