𝗚𝘂𝘀 𝗬𝗮𝗾𝘂𝘁, 𝗛𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵 𝗞𝗲-𝟵𝟮 𝗚𝗣 𝗔𝗻𝘀𝗼𝗿 dan 𝗠𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮

Sebuah Refleksi Kontemplatif

Hari ini, 92 tahun yang lalu, GP Ansor lahir. Bukan sekadar organisasi, tapi anak sekaligus motor penggerak, Ronin yang setia mengabdi bagi khidmah-khidmah Nahdlatul Ulama untuk dunia. Selamat hari lahir, GP Ansor. Tetaplah menjadi kapal besar bagi anak-anak muda NU untuk terus mengawal para kiai dan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Banyak yang mengenal GP Ansor, banyak yang mengenalnya, paham dan mengerti. Satu momentum saat dinahkodai Gus Yaqut, organisasi ini bertransformasi menjadi rumah teduh bagi toleransi di Indonesia. Di bawah tongkat komandonya, GP Ansor menjadi garda terdepan yang merajut kebinekaan, menjaga kerukunan antarumat beragama agar tetap kokoh. Ia menjadi motor kampanye Islam yang ramah, moderat, dan humanis. Bahkan, GP Ansor menggerakkan gagasan Humanitarian Islam dengan mengumpulkan akademisi dan pemimpin agama dunia untuk membahas peran agama dalam merespons krisis kemanusiaan, serta memperkuat nilai keadilan, kesejahteraan, dan kasih sayang.

Tak hanya itu. Di era kepemimpinan Gus Yaqut, GP Ansor juga menjadi garda terdepan untuk menangkal infiltrasi paham keagamaan ekstrem dari luar. Sikapnya tidak pernah abu-abu. Hasilnya? GP Ansor menjadi motor dibubarkannya HTI oleh Pemerintah pada tahun 2017. Membersihkan badan usaha milik negara dari kooptasi paham-paham ekstrem adalah bentuk khidmah lain yang tak banyak diketahui orang.

Hari ini, di usianya yang ke-92, khidmah itu harus tetap hidup. Jangan sampai GP Ansor kehilangan peran yang bahkan sering diabaikan oleh negara. Mencintai negeri ini dan menjaganya adalah tanggung jawab sejarah yang harus dipanggul oleh organ bernama GP Ansor.

Bahkan setelah menjadi Menteri Agama, Gus Yaqut mendeklarasikan dirinya sebagai menteri semua agama. Bukan sekadar jargon, melainkan sikap nyata yang lahir dari semangat Nahdlatul Ulama dan GP Ansor: bagaimana negara semestinya bersikap terhadap keberagaman. DNA GP Ansor menyatu dalam dirinya. Artinya, beliau tidak hanya mengayomi umat Islam, tetapi juga hadir sebagai pelindung bagi umat Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan seluruh pemeluk keyakinan di negeri ini.

Kebijakannya tidak pernah berat sebelah. Ia memastikan pemberian izin pembangunan rumah ibadah semua agama berjalan adil, mendorong dialog lintas iman di tingkat akar rumput, serta menolak keras segala bentuk diskriminasi atas nama agama. Agama adalah inspirasi dan bukan aspirasi.

Hasilnya tidak main-main. Indeks kerukunan umat beragama di hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami kenaikan selama periode kepemimpinannya. Konflik-konflik horizontal yang kerap dipicu oleh sentimen agama mereda. Bahkan di daerah-daerah yang sebelumnya rawan ketegangan, iklim toleransi mulai tumbuh kembali.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah buah dari keberanian seorang menteri yang memilih merawat persatuan, bukan sekadar populer di satu kelompok. Dan ironisnya, di saat negeri ini mulai merasakan damai, justru ia harus berhadapan dengan fitnah yang berusaha meruntuhkan kredibilitasnya.

Maka hari ini, di hari lahirnya GP Ansor, organisasi ini justru sedang berduka. Mantan ketua umumnya yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat GP Ansor sedang menghadapi fitnah besar. Beliau yang menjadi bapak bagi jutaan kader itu kini berjuang merebut keadilan dan kebenaran atas khidmahnya ketika menjadi Menteri Agama.

Jutaan kader GP Ansor tidak akan melupakan, apalagi meninggalkannya. Mustahil. Terlalu besar jasa, khidmah, dan pengorbanannya untuk GP Ansor dan negeri ini. Mari bersama berdoa, bermunajat, agar Gus Yaqut segera mendapatkan keadilan atas semua fitnah yang menimpanya.

#Harlah92GPAnsor #GusYaqutAdalahKita
#RumahToleransi
#MenteriSemuaAgama