Ultah ke 80, Mantan Bupati Mardjoko Gelar Pertunjukan Wayang Gagrag Banyumasan

Dari Jejak Leluhur hingga Regenerasi Dalang Muda

BANYUMAS — Malam di Grumbul Kalirajut, Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Sabtu (28/3/2026), menjadi panggung kebudayaan yang sarat makna. Di usia ke-80, Mantan Bupati Banyumas Periode 2008 – 2013 Mardjoko menghadirkan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sebagai bentuk perayaan sekaligus ikhtiar merawat napas panjang Wayang Gagrag Banyumasan.

 

Di halaman kediamannya, lakon “Babad Kali Serayu” mengalir pelan namun kuat—menuturkan sejarah Sungai Serayu sebagai nadi kehidupan masyarakat Banyumas. Namun bagi Mardjoko, pementasan ini lebih dari sekadar tontonan.

 

“Wayang Banyumasan harus terus hidup. Ini bagian dari identitas Banyumas,” ujarnya tegas.

 

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Mardjoko mengaku telah ikut menghidupkan kembali pertunjukan wayang Banyumasan di 29 titik sebelumnya. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan melalui regenerasi dalang.

Menggenapi Wasiat Leluhur

 

Pertunjukan malam itu juga menjadi ruang personal yang intim. Dalam alur cerita, terselip kisah dua leluhur Mardjoko—Kiai Sucang dan Eyang Singalani—yang disebut sebagai bagian dari sejarah pemerintahan lokal Banyumas.

 

Kiai Sucang tercatat pernah menjadi Lurah Notog pada 1790, sementara Eyang Singalani menjabat Demang Rempoah pada 1890. Keduanya memiliki keinginan yang sama: menggelar pertunjukan wayang. Namun cita-cita itu tak pernah terwujud.

 

“Keinginan itu tidak pernah tercapai karena uangnya habis untuk mensejahterakan rakyat,” tutur Mardjoko.

 

Melalui pementasan ini, ia merasa tengah “menggenapi” harapan yang tertunda ratusan tahun. Sebuah bentuk bakti lintas generasi, yang menurutnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

 

Gagrag Banyumasan: Identitas yang Tak Tergantikan

 

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia Kabupaten Banyumas, Sriyono, menegaskan bahwa wayang gagrag Banyumasan memiliki karakter yang tidak dimiliki daerah lain.

“Saya saat ini menjadi ketua punya ciri sendiri yang di daerah lain tidak ada. Baik iringan, sulukan, kemudian dialek Banyumasan itu tidak ada di daerah lain. Inilah yang kami miliki,” ujarnya.

 

Menurutnya, kekhasan itu tampak dari seluruh unsur pertunjukan—mulai dari gending, dialog berbahasa ngapak, hingga gaya khas seperti Onto Petona. Semua menyatu menjadi identitas kultural yang kuat dan membumi.

 

Pementasan di kediaman Mardjoko pun disebut menampilkan Banyumas secara utuh: lakon lokal, iringan khas, hingga suluk Banyumasan yang jarang ditemui di luar wilayah tersebut.

 

Regenerasi: Harapan di Tangan Generasi Muda

 

Lebih jauh, Sriyono menekankan bahwa pelestarian tidak cukup berhenti pada panggung pertunjukan. Kunci keberlanjutan ada pada regenerasi.

 

Salah satu yang tampil malam itu adalah Panji Laksono, dalang muda berusia sekitar 25 tahun yang dinilai konsisten menjaga pakem Banyumasan. Ia dikenal kerap membawakan lakon-lakon lokal seperti “Among Carito” di berbagai daerah, dari Yogyakarta hingga Pemalang.

 

“Mas Panji ini sudah hampir 10 kali pentas dengan gaya Banyumasan. Ini yang kita dorong,” kata Sriyono.

 

Fenomena menarik justru terlihat pada komposisi generasi penerus. Jika dalang senior cenderung enggan mendalami gaya Banyumasan, generasi muda justru menunjukkan antusiasme tinggi.

 

“Dalang sepuh banyak yang angkat tangan. Tapi anak-anak dan remaja justru semangat,” ujarnya.

 

Pepadi Banyumas bahkan telah melakukan pembinaan intensif bagi anak usia 8 hingga 11 tahun. Saat ini, tercatat puluhan anak telah mengikuti pelatihan di sanggar, termasuk seorang dalang cilik berusia 10 tahun yang berhasil meraih juara dua tingkat nasional.

 

“Yang usia 10 tahun, sekarang kelas 6 SD, itu juara 2 tingkat nasional festival dalang anak gaya Banyumasan,” ungkapnya.

 

Dari Panggung Pribadi ke Agenda Budaya

 

Bagi Mardjoko, pertunjukan ini diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan sesaat. Ia berencana menjadikannya agenda rutin setiap tahun, bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

 

Lebih dari itu, panggung sederhana di halaman rumah tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya tak selalu lahir dari institusi formal. Ia bisa tumbuh dari kesadaran personal—dari seseorang yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap akar tradisinya.

 

Di tengah gempuran budaya populer, wayang gagrag Banyumasan kembali menemukan ruangnya. Bukan sekadar tontonan semalam suntuk, tetapi penanda identitas, pengikat sejarah, dan harapan bahwa warisan leluhur akan terus hidup di tangan generasi berikutnya.