Tak hanya Sarat Makna Spiritual, Tadarus Sastra Yayasan Serayu Penawara dan Sanggar Seni Samudra Justru Makin Kental dengan Nilai Humanisme Universal

Hadirkan Bahasa Isyarat Hingga Akomodatif Terhadap Kaum Defabel

PURWOKERTO – Tadarus Sastra yang digelar Yayasan Serayu Penawara dan Sanggar Seni Samudra tak hanya sukses menggaet antusiasme masyarakat, kegiatan tersebut justru makin bermakna ketika sastra juga dapat dinikmati oleh penyandang disabilitas.

Dengan mengkombinasikan penggunaan bahasa isyarat maka penderita tuna rungu tetap dapat memahami nilai nilai sastra yang disampaikan.

Pertunjukan itu dikemas secara apik dan mengagumkan. Pertunjukan yang tidak hanya sekedar hiburan, malam itu sastra seolah menjadi mantra yang memberi percikan nilai-nilai kehidupan.

Setelah sebelumnya sanggar seni samudra menghadirkan Sastra Sulap Puitik yang di bawakan oleh Yoga Bagus Wicaksana, Jumat 13 Maret di Cafe Bahenol Karangklesem, Sanggar Seni Samudra menghadirkan terobosan baru. Yakni penggunaan bahasa isyarat.

Malam itu, Sejumlah seniman membaca puisi masing-masing.

Tejo misalnya, Seniman asal Susukan Banjarnegara ini membawakan puisi berjudul Razan.

Puisi “Razan” adalah sebuah karya sastra yang mengeksplorasi tema kemanusiaan dan penderitaan, khususnya terkait dengan konflik di Palestina. Puisi ini ditulis oleh Helvy Tiana Rosa, seorang penulis dan penyair Indonesia yang dikenal dengan karya-karya yang mengangkat isu-isu sosial dan politik.

 

Razan

bagaimana aku memulai kisahmu

Detak rindu yang tumbuh

dari bukit-bukit matamu

menyeruak jauh menembus dinding pulazi,

melewati perbatasan Gaza, Palestina

 

Razan

kilau keberanian dan ketulusan

dua puluh satu tahun di jubah putihmu

telah memperpanjang napas cinta

dunia yang kian sekarat.

Adakah yang pernah kau lakukan

selama hidupmu,

selain menolong sesama?

 

Tapi peluru para sniper zionis

tak pernah kenal wajah kemanusiaan

atau kebaikan.

Bengis mereka bidik

bukan hanya jantung

para pejuang tanah airmu,

namun tanpa malu mereka bantai

para bocah, jurnalis,

atau relawan medis sepertimu

 

Razan

apa yang harus kuucapkan tentangmu?

Aku merasakanmu

Ketika kau terkapar hari itu di Khan Younes,

aku menangis sesenggukan di kamarku

Parau memanggil manggil namamu

dalam ketidakberdayaan,

sambil mengutuk penembak itu,

Netanyahu, Trump dan entah siapa

Tiba tiba kucium aroma langit

para bidadari

Di sudut sepi,

puisi puisiku rebah berlumuran darah,

mendekap tubuhmu yang kesturi.

Menurut Tejo kedepan Sanggar seni Samudra juga harus memperkuat karya sastra. Hal itu bisa diawali dengan kegiatan semacam ini yakni pembacaan puisi. Namun kedepan harus diperkuat dengan karya tulisan.

” Akting bagi pegiat seni memang penting, namun kekuatan tulisan juga tidak boleh diabaikan, ” ujarnya.

Sementara itu Joni Jonte, yang membawakan puisi dan dikemas dengan tembang dan iringan musik.

Seolah flashback pada masa kecil, saat masjid dan surau masih alakadarnya. Lantunan pujian menggema disetiap sudut desa dan kota.

Namun kini, setelah masjid dan mushola dipugar menjadi lebih indah, tapi justru lantunan pujian dilarang.

Lewat tembang dan pujian yang ia bawakan, Joni Jonte mengingatkan kembali tentang kedisiplinan sholat 5 waktu.

Dengan pembawaan gaya jenaka dan sesekali satir, tadarus sastra malam itu terasa makin hangat.

Tak hanya digadiri kalangan generasi muda, baik siswa siswi SMA, Mahasiswa, Tadarus Sastra malam itu juga dihadiri para tokoh dan maestro seni, Edy Romadhon, Titut, Rohadi, Bambang Wadoro, dan masih banyak lagi.

Sepanjang acara, suasana terasa begitu hangat dan akrab. Melalui kolaborasi apik, Tadarus Sadtra juga menjadi medium untuk menemukan kembali makna spiritualitas di bulan Ramadhan 1447 Hijriah tahun ini. ( Sakur AW)