Setahun Beroperasi, Stasiun Kebasen Tunjukkan Pertumbuhan Signifikan dan Yanuar Usulkan Tambah Kereta Eksekutif

oleh Tim Redaksi

BANYUMAS — Stasiun Kebasen, Kabupaten Banyumas, genap beroperasi selama satu tahun sejak diaktifkan pada 23 Desember 2024. Selama kurun waktu tersebut, keberadaan stasiun ini dinilai memberikan manfaat nyata bagi mobilitas masyarakat sekaligus mendorong geliat ekonomi wilayah Kebasen dan sekitarnya.

Anggota DPR RI dari Dapil Banyumas – Cilacap, Yanuar Arif Wibowo, menyampaikan rasa syukurnya atas satu tahun beroperasinya Stasiun Kebasen. Menurutnya, aktivasi stasiun ini telah membuka akses transportasi yang lebih efektif dan efisien bagi masyarakat.

“Alhamdulillah hari ini tepat setahun beroperasinya Stasiun Kebasen. Harapan saya, aktivasi stasiun ini betul-betul bisa membantu masyarakat Kebasen dan sekitarnya dalam bepergian, lebih efektif dan efisien secara waktu,” ujar Yanuar.

Ia menambahkan, manfaat Stasiun Kebasen tidak hanya dirasakan oleh pengguna kereta secara individu, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan kawasan. Apalagi Kebasen memiliki sejumlah potensi ekonomi dan pariwisata, seperti Bendung Gerak Serayu yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata, serta sentra kuliner lokal.

“Mudah-mudahan stasiun ini bisa tumbuh dan berkembang. Bukan hanya untuk orang per orang, tapi Kebasen dan sekitarnya bisa ikut tumbuh. Di sini ada bendung gerak Serayu, ada wisata dan kuliner,” lanjutnya.

IMG 20251224 080614 BANYUMAS — Stasiun Kebasen, Kabupaten Banyumas, genap beroperasi selama satu tahun sejak diaktifkan pada 23 Desember 2024. Selama kurun waktu tersebut, keberadaan stasiun ini dinilai memberikan manfaat nyata bagi mobilitas masyarakat sekaligus mendorong geliat ekonomi wilayah Kebasen dan sekitarnya.

Saat ini, Stasiun Kebasen baru dilayani dua kereta api, yakni KA Bengawan dan KA Serayu. Yanuar menyebut, aspirasi masyarakat terus mengalir agar jumlah kereta yang berhenti di Stasiun Kebasen dapat ditambah ke depan.

Sementara itu, Kepala Daerah Operasi (Kadaop) 5 Purwokerto, PT Kereta Api Indonesia (Persero), Mohamad Arie Fathurrochman menjelaskan bahwa kinerja Stasiun Kebasen selama satu tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Meski di awal pengoperasian jumlah penumpang masih terbatas, peningkatannya terbilang signifikan.

“Di bulan Januari awal beroperasi, jumlah penumpang kurang lebih hanya sekitar 100 orang. Di bulan Desember ini sudah mencapai lebih dari 400 penumpang, bahkan dengan situasi liburan bisa menyentuh angka 500. Artinya pertumbuhannya naik sekitar lima kali lipat,” jelasnya.

Menurut Kadaop, peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bahwa keberadaan Stasiun Kebasen memberikan warna tersendiri bagi pembangunan dan perkembangan ekonomi wilayah setempat. Namun demikian, rencana penambahan layanan kereta masih harus melalui kajian mendalam, terutama dari sisi trafik penumpang harian.

“Kalau kita rata-ratakan, 500 penumpang per bulan itu masih kurang dari 20 orang per hari. Untuk penambahan pemberhentian kereta lain, tentu kami melihat trafiknya. Kalau per hari bisa mencapai sekitar 100 orang, itu bisa menjadi pertimbangan kuat,” ujarnya.

Menanggapi aspirasi masyarakat yang menginginkan layanan kereta kelas eksekutif berhenti di Stasiun Kebasen, Yanuar menyebut perlunya survei dan penyesuaian regulasi. Pasalnya, dua kereta yang saat ini berhenti merupakan kereta bersubsidi.

“Ada permintaan agar bisa ada akses kereta eksekutif, supaya masyarakat tidak perlu ke Purwokerto. Tapi tentu ini terkait regulasi, karena kereta yang berhenti sekarang bersubsidi. Aturannya harus disesuaikan,” katanya.

Meski demikian, Yanuar optimistis bahwa peningkatan jumlah penumpang akan berbanding lurus dengan pengembangan layanan di masa mendatang.

“Kalau permintaannya bisa mencapai 100 orang per hari, saya yakin pasti akan ada kereta lain yang berhenti di sini. Pada akhirnya, semua kebijakan pasti melihat kebutuhan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Dengan tren peningkatan penumpang yang terus menunjukkan grafik positif, Stasiun Kebasen diharapkan ke depan tidak hanya menjadi simpul transportasi, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah Banyumas bagian timur selatan.