Senat Unsoed Kerucutkan Calon Rektor 2026–2030, Hasil Suara Unggulkan Akhmad Sodiq dan Ali Rokhman

oleh Tim Redaksi

PURWOKERTO – Proses pemilihan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, periode 2026–2030 memasuki fase krusial. Kamis (29/1/2026), empat bakal calon rektor memaparkan visi, misi, dan program kerja di hadapan Senat Universitas dalam tahap penyaringan awal yang menjadi penentu arah kepemimpinan Unsoed lima tahun ke depan.

Tahap ini menjadi ajang adu gagasan para kandidat untuk meyakinkan Senat Universitas terkait strategi penguatan mutu akademik, tata kelola kampus, kesejahteraan sivitas akademika, hingga perluasan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.

Dari hasil penelusuran sejumlah sumber internal, perolehan suara tingkat Senat Universitas menunjukkan peta persaingan yang cukup ketat di dua kandidat teratas. Berikut hasil sementara:

Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq (Rektor petahana Unsoed 2022–2025): 38 suara

Prof. Dr. Ali Rokhman (FISIP Unsoed): 36 suara

Dr. Adi Indrayanto (Kepala BPU Unsoed): 3 suara

Dr. Khavid Faozi (Wadek Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Pertanian): 2 suara

Hasil ini menjadi dasar bagi Senat untuk menetapkan tiga nama yang akan melaju ke tahap akhir pemilihan rektor.

Menanti Suara Menteri 35 Persen

Tahap selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada April 2026, melibatkan suara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam mekanisme pemilihan, komposisi suara dibagi menjadi 80 suara Senat (65 persen) dan 43 suara Menteri (35 persen).

Sementara itu, pemilihan calon rektor secara keseluruhan direncanakan berlangsung sekitar Maret 2026, dengan pelantikan rektor terpilih pada Mei 2026 di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Senat Soroti Capaian Positif Unsoed

Senat Unsoed, Prof. Dr. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum, yang juga Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, memaparkan berbagai capaian positif yang diraih Unsoed dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu indikator utama adalah lonjakan jumlah guru besar. “Jumlah profesor meningkat signifikan dari 37 menjadi 139 guru besar, atau naik lebih dari 300 persen,” ungkapnya.

Dari sisi kesejahteraan, pendapatan dan anggaran remunerasi juga menunjukkan tren positif. Dalam tiga tahun terakhir, alokasi remunerasi meningkat dari Rp 115 miliar, naik menjadi Rp 125 miliar, dan terakhir mencapai Rp 142 miliar. Dana ini dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.

Akses Pendidikan dan Keberpihakan Sosial

Unsoed juga dinilai konsisten memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Saat ini, sekitar 34 persen mahasiswa Unsoed berasal dari keluarga kurang mampu, angka yang melampaui rata-rata perguruan tinggi lain yang umumnya masih berbasis kuota.

“Di perguruan tinggi lain hanya berdasarkan kuota, namun Unsoed sudah memberikan porsi lebih. Ini menunjukkan keberpihakan terhadap akses pendidikan yang luas dan mudah,” tegas Prof. Kuat.

Bahkan, mahasiswa kategori UKT level 1 hanya membayar Rp 500 ribu, sedangkan level 2 sebesar Rp 1 juta. Kebijakan ini disebut sebagai langkah progresif untuk menekan angka putus kuliah dan mendorong partisipasi lulusan sekolah menengah melanjutkan ke perguruan tinggi.

Fokus Mutu dan Jejaring Kerja Sama

Selain itu, kualitas program studi (prodi) terakreditasi unggul di Unsoed terus bertambah. Peningkatan sarana dan prasarana juga dilakukan merata, tidak hanya pada prodi dengan jumlah mahasiswa besar, tetapi juga pada prodi kecil.

“Pertumbuhan ini harus dilihat dari sisi profesionalisme, kualitas, dan jejaring kerja sama yang terus meningkat,” tambah Prof. Kuat.

Unsoed juga berupaya memperbesar perolehan dana hibah eksternal agar tidak sepenuhnya bergantung pada UKT mahasiswa, sekaligus memperkuat kemandirian keuangan kampus.

Menanti Tiga Besar dan Penentu Akhir

Dengan persaingan yang semakin menghangat, publik kampus kini menantikan tiga nama yang akan lolos ke tahap akhir pemilihan. Peran suara Menteri yang mencapai 35 persen dipastikan menjadi faktor penentu dalam menetapkan sosok yang akan memimpin Unsoed menuju periode kepemimpinan 2026–2030.

Pemilihan ini tidak hanya menentukan figur rektor, tetapi juga arah kebijakan strategis Unsoed dalam memperkuat reputasi sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Jawa Tengah dan nasional.