Jejak Pejuang Antikolonial di Banyumas: Mengenang Peran Strategis Untung Surapati di Ajibarang

BANYUMAS — Lebih dari tiga abad silam, di sebuah desa bernama Ajibarang yang kini menjadi kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, seorang lelaki bernama Untung Surapati mengukir salah satu babak terpenting dalam perjalanan hidupnya. Bukan dalam medan perang besar, melainkan dalam satu keputusan moral: ia memilih membantu rakyat yang tertindas sebelum melanjutkan perjalanannya menuju pusat kekuasaan Mataram.

Nama Untung Surapati kini melekat erat dalam memori kolektif bangsa Indonesia sebagai pahlawan nasional yang gigih menentang kekuasaan Kompeni Belanda (VOC). Namun, di balik heroisme besar itu, tersimpan satu episode yang kerap luput dari perhatian: perlawanan lokal di Banyumas dan misi pembebasan di Ajibarang — yang justru menjadi batu loncatan bagi Surapati untuk meraih kepercayaan Sunan Amangkurat II dari kerajaan Mataram.

Pelarian Melewati Cijolang Menuju Banyumas

Menurut biografi resmi yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia berjudul Untung Surapati (2012), karya Ny. Ratnawati Anhar, perjalanan Surapati menuju Banyumas diawali oleh situasi genting di Jawa Barat. Setelah serangkaian pertempuran di kawasan Priangan dan Galunggung, Surapati bersama pasukannya yang tersisa berhasil lolos dari kepungan tentara Kompeni pimpinan Yacobus Couper pada Oktober 1684.

Sumber yang sama mencatat bahwa setelah menyeberangi Sungai Cijolang, Surapati dan pasukannya menyingkir ke Banyumas meninggalkan daerah Priangan. Pasukan Yacobus Couper sendiri disebut kembali ke Batavia pada 26 November 1684 karena tak mampu mengejar rombongan Surapati yang bergerak cepat ke timur.

Atas saran Sultan Cirebon, Surapati mengarahkan langkahnya menuju Mataram dengan harapan dapat bergabung dengan kekuatan kerajaan tersebut guna meneruskan perjuangan melawan penjajah. Ia pun membawa serta Raden Gusik Kusuma, istri Pangeran Purbaya yang merupakan anak angkat Sultan Cirebon, sebagai bagian dari rombongannya.

Ajibarang: Titik Mula Pengabdian kepada Mataram

Sebelum tiba di Kartasura sebagai ibu kota kerajaan Mataram, Surapati dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit di wilayah Banyumas. Di desa Ajibarang — yang dalam catatan sejarah disebut terletak tidak jauh dari kota Banyumas — ia mendapat kabar bahwa rakyat setempat berada dalam ketakutan akibat ulah gerombolan pengacau (keraman) yang dipimpin dua bersaudara bernama Suradenta dan Suradenti (Budiman dkk., Untung Surapati, 1972, hlm. 44).

Lebih parah lagi, Bupati Banyumas yang sah bahkan telah diusir dari kedudukannya dan terpaksa menyingkir keluar kota. Situasi ini mengusik nurani Surapati. Namun ia sadar diri: Banyumas adalah wilayah di bawah kekuasaan langsung Sunan Amangkurat II di Kartasura. Ia tidak memiliki wewenang untuk bertindak tanpa restu dari penguasa tertinggi Mataram.

Saat itu, dua prajurit kerajaan Mataram — Wiradigda dan Wiramaja — yang berhasil meloloskan diri dari serangan gerombolan Suradenta-Suradenti, justru menemui Surapati di Ajibarang. Keduanya memohon bantuan agar Surapati dan pasukannya bersedia menumpas kekacauan yang telah melanda Banyumas dan sekitarnya.

Surapati menyanggupi permintaan itu, namun dengan satu syarat tegas: perintah harus datang langsung dari Sunan Amangkurat II. Baginya, hal itu bukan sekadar formalitas, melainkan cermin dari integritas seorang pejuang yang menghormati tata tertib kenegaraan — meskipun ia sendiri adalah seorang pelarian yang dikejar Kompeni.

Restu Kartasura dan Gerak Pasukan ke Banyumas

Laporan mengenai keberadaan Surapati di Ajibarang beserta kesiapannya membantu kerajaan sampai ke telinga Mangkubumi Nerangkusuma — pejabat tertinggi dalam pemerintahan Mataram sekaligus tangan kanan Sunan Amangkurat II. Nerangkusuma, yang sejak lama menaruh simpati pada perjuangan antikolonial, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ia segera menghadap Sunan Amangkurat II dan meyakinkan sang penguasa untuk menerima tawaran Surapati. Sunan pun setuju, dengan syarat Surapati berhasil menumpas gerombolan di Banyumas. Sebagai bentuk kepercayaan, Sunan bahkan memerintahkan pasukan suku Bali yang dipimpin Wangsanata, Singabarong, dan Mangkuyuda untuk turut serta mendampingi Surapati (Tjandrasasmita, 1964, hlm. 146).

Dengan surat resmi dari Amangkurat II di tangan, Surapati memimpin gerakannya. Ia terlebih dahulu mengutus Kyai Ebun Jaladirya untuk menyusup ke dalam gerombolan guna memetakan kekuatan dan kelemahan mereka. Strategi intelijen ini terbukti efektif: perpecahan internal di kubu Suradenta-Suradenti berhasil dimanfaatkan, dan ketika Surapati beserta pasukannya menggelar serangan terkoordinasi dari Ajibarang, gerombolan itu pun takluk.

Rakyat Banyumas dan sekitarnya kembali merasa aman. Surapati kemudian mengangkat putra almarhum Bupati Banyumas sebagai bupati sementara, sambil menunggu keputusan resmi dari Kartasura.

Signifikansi Banyumas dalam Lintasan Perjuangan Surapati

Episode Banyumas dan Ajibarang bukan sekadar catatan kaki dalam kisah Untung Surapati. Peristiwa ini menunjukkan sisi lain dari seorang pejuang yang kerap hanya dikenang sebagai figur militer: ia adalah pemimpin yang menempatkan kepentingan rakyat di atas hasrat pribadinya.

Keberhasilan misi Banyumas inilah yang membuka pintu bagi Surapati untuk diterima secara resmi di keraton Kartasura. Sunan Amangkurat II menyambutnya dengan hangat, mengembalikan senjata dan perlengkapannya, serta menganugerahkan sebidang tanah di kawasan Babarong sebagai tempat tinggal. Dari sinilah kemudian bergulir peristiwa besar berikutnya: pertempuran melawan Kapten Francois Tack dari Kompeni Belanda yang berakhir dengan kematian sang kapten — sebuah kemenangan militer yang mengguncang VOC.

Surapati kemudian melanjutkan perjuangannya di Jawa Timur, di mana ia mendirikan kekuasaan sendiri di Bangil-Pasuruan dengan gelar Adipati Aria Wiranegara. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan kepadanya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 106/TK/Tahun 1975.

Kisah Untung Surapati di Banyumas mengajarkan satu pelajaran yang abadi: bahwa keberanian sejati bukan hanya soal kemenangan dalam pertempuran, melainkan juga tentang kemampuan seorang pemimpin dalam menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama — bahkan di tengah perjalanannya sendiri yang penuh bahaya.

SUMBER & REFERENSI

  1. Ratnawati Anhar, Ny. Untung Surapati. Cetakan III. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012.
  2. Budiman dkk. Untung Surapati. Jakarta: Ketikan, 1972, hlm. 44.
  3. Uka Tjandrasasmita. “Untung Surapati.” Dalam Laporan Lengkap Sejarah Visual, Museum Sejarah Tugu Nasional, Bagian III. Jakarta: Panitia Museum Sejarah Tugu Nasional, 1964, hlm. 146.
  4. Djoko Soekiman. “Perjuangan Untung Surapati.” Dalam Sartono Kartodirjo (ed.), Sejarah Perlawanan-perlawanan Terhadap Kolonialisme. Jakarta: Pusat Sejarah ABRI, 1973, hlm. 34.
  5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106/TK/Tahun 1975 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Untung Surapati.