Sejarah dan Pesan Filosofis Kisah Loetoeng Kasaroeng pada Naskah Klasik Jawa dan Sunda

Cerita Versi Kamandaka Ciptarasa dan Guru Minda Purbasari

Lutung Kasarung Versi Sunda dan Kamandaka

Legenda Lutung Kasarung memiliki dua versi utama yang berkembang di masyarakat, yaitu versi cerita pantun Sunda dan versi Babad Pasir Luhur. Berdasarkan telaah naskah pantun Sunda oleh Dr. F. S. Eringa dalam buku “Loetoeng Kasaroeng: Een mythologisch verhaal uit West-Java” terbitan tahun 1949, versi pertama merupakan cerita mitologis yang sarat akan ritus inisiasi dan mitos pertanian. Tokoh utamanya adalah Guru Minda Kahiangan, seorang putra dewa dari kahyangan yang turun ke bumi menyamar sebagai kera hitam atau lutung untuk mencari calon istri yang secantik ibunya, Sunan Ambu. Di bumi, tepatnya di Kerajaan Pasir-Batang, ia bertemu dengan Purbasari, putri bungsu raja yang diasingkan ke hutan dengan pakaian compang-camping oleh kakak sulungnya yang iri dengki, Purbararang.

Di pengasingan tersebut, dengan bantuan gaib dari ibunya dan para dewa (boedjangga), Lutung Kasarung membantu Purbasari melewati berbagai ujian mustahil dari kakaknya, mulai dari membendung sungai hingga lomba menanam padi. Pada puncaknya, Lutung Kasarung membuang wujud keranya dan berubah kembali menjadi dewa yang sangat tampan, mengalahkan tunangan Purbararang yang bernama Indradjaja, lalu mengangkat Purbasari sebagai penguasa kerajaan didampingi oleh tokoh pendukung setia seperti Lengser serta Aki dan Nini Panympit.

Sementara itu, versi kedua bersumber dari naskah Banyumas dalam buku “Babad Pasir, volgens een Banjoemaasch handschrift” terjemahan J. Knebel (1898) dan diperkuat oleh buku “Serat Turunan Sejarah Wirasaba” karya Sumarno dkk. (2021). Dalam versi ini, kisahnya lebih bernuansa legenda romantis berbalut kepahlawanan pseudo-historis, di mana Lutung Kasarung adalah bentuk penyamaran Pangeran Kamandaka atau yang bernama asli Raden Banjakcatra, putra mahkota Kerajaan Pajajaran. Kisah bermula ketika ia mengembara untuk mencari istri yang wajahnya secantik ibunya dan kemudian jatuh cinta pada Dewi Ciptarasa dari Pasir Luhur.

Karena ketahuan menyusup dan diserang oleh prajurit, ia melarikan diri lalu melakukan tapa brata atau semedi yang sangat tekun. Di tengah pertapaannya, ia diuji oleh dewa dengan berbagai penampakan mengerikan seperti makhluk Banaspati dan Gandarwa. Setelah berhasil melewati ujian tersebut tanpa gentar, Sang Dewa Agung (Sang Hyang utipati) muncul dan memberinya anugerah berupa baju gaib. Dengan mengenakan baju gaib tersebut, wujud Kamandaka berubah menyerupai lutung hitam sehingga ia berhasil kembali menyusup ke keputren sebagai hewan peliharaan kesayangan sang putri, mengalahkan musuhnya yaitu Raja Pulebaas, dan akhirnya hidup bahagia bersama Dewi Ciptarasa.

Dalam kedua versi legenda ini, sosok Kamandaka maupun Lutung Kasarung memiliki keterikatan yang sangat erat dengan tokoh legenda Sunda lainnya, yaitu Ciung Wanara. Di dalam silsilah Babad Pasir Luhur, Adipati Kandadaha secara gamblang mengungkapkan bahwa Kamandaka (Raden Banjakcatra) merupakan keturunan langsung dari Prabu Ciung Wanara (Prabu Siungwinara) dari Kerajaan Galuh, yang menandakan bahwa Kerajaan Pajajaran dan Pasir Luhur masih berasal dari satu garis keturunan darah yang sama.

Di luar naskah tersebut, ikatan antara Lutung Kasarung dan Ciung Wanara dikisahkan secara sangat bervariasi dalam tradisi sastra lisan masyarakat. Dalam tradisi Bogor, tokoh Lutung Kasarung diidentikkan atau dianggap sebagai orang yang sama dengan Ciung Wanara itu sendiri. Sedangkan dalam naskah dan tradisi lainnya seperti Sejarah Banten, Babad Galuh, Waruga Guru, dan tradisi Cirebon, tokoh Lutung Kasarung dikisahkan secara beragam sebagai ayah, menantu, cucu, atau bahkan keponakan jauh dari Ciung Wanara.

Perbedaan alur dari kedua versi ini juga membawa perbedaan mendasar pada latar waktu atau era ceritanya. Versi pantun Sunda memiliki latar waktu yang sangat arkais dan bersifat mitologis pada zaman para dewa. Meskipun usianya sulit dipastikan, tradisi lisan mengasumsikan cerita ini merujuk pada masa kejayaan Kerajaan Sunda kuno Pajajaran di sekitar abad ke-14 hingga ke-15.

Analisis Dr. F. S. Eringa terhadap nama ibu kota “Pasir-Batang” juga menunjukkan bahwa nama wilayah tersebut digunakan dalam kurun waktu antara paruh pertama abad ke-16 hingga paruh pertama abad ke-18. Sebaliknya, versi Babad Pasir memiliki bingkai waktu pseudo-historis yang berkesinambungan dan lebih jelas, bermula pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi di Pajajaran dan masa akhir Kerajaan Majapahit. Latar cerita sejarah ini kemudian tidak berhenti di era Hindu-Buddha saja, melainkan terus berlanjut mengikuti masa transisi pergantian kekuasaan di Pulau Jawa hingga masuk ke era kerajaan-kerajaan Islam, seperti terlihat dari berkembangnya riwayat wilayah Kadipaten Wirasaba menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Demak, Pajang, hingga Kasultanan Mataram.

Secara mendalam, kisah Lutung Kasarung mengajarkan tentang pentingnya keteguhan hati dan kemurnian jiwa di balik penampilan fisik yang sederhana. Penyamaran sebagai lutung melambangkan proses pembersihan diri atau laku prihatin yang harus dijalani seseorang untuk mencapai kemuliaan. Hingga saat ini, kedua versi cerita ini tetap menjadi warisan budaya yang penting bagi masyarakat Jawa dan Sunda sebagai pengingat akan nilai-nilai kesetiaan dan keadilan.