PURWOKERTO — Pasca peristiwa banjir di kawasan lereng Gunung Slamet, para pengelola objek wisata dan pegiat pariwisata Baturraden bergerak cepat meredam kekhawatiran publik. Mereka kompak mengampanyekan gerakan “Baturraden Aman” untuk memastikan bahwa destinasi wisata di lereng selatan Gunung Slamet tetap kondusif dan layak dikunjungi.
Kampanye ini lahir dari pertemuan lintas pelaku wisata yang digelar di Massapi Resto Baturraden, Jumat (30/01/2026). Fokus utamanya: meluruskan informasi simpang siur di media sosial sekaligus memulihkan kepercayaan wisatawan.
Salah satu pelaku usaha jasa pariwisata, Tekad, menegaskan bahwa kondisi geografis dan vegetasi di sisi selatan Gunung Slamet menjadi “benteng alam” yang efektif. Hutan yang masih lestari, menurutnya, berperan besar dalam menekan risiko banjir dan longsor.
“Kalau di wilayah lereng selatan Gunung Slamet, mulai Baturraden sampai ke pelatarannya semuanya aman, karena hutannya masih lestari. Jadi jangan takut untuk berkunjung ke Baturraden, karena Baturraden masih adem ayem,” ujar Owner RM Putri Gunung itu.

Ia menyebut, pertemuan tersebut dihadiri para pengelola dan pegiat wisata yang memahami betul kondisi lapangan. Informasi yang disampaikan, kata dia, bersifat real dan objektif, sebagai penyeimbang terhadap kabar yang beredar di ruang digital.
Nada serupa disampaikan Manager Klaster Banyumas PT Palawi Risorsis, Farachin. Menurutnya, lereng selatan Gunung Slamet relatif aman berkat vegetasi yang masih terjaga.
“Vegetasi yang masih bagus setidaknya bisa untuk mencegah banjir ataupun longsor, khususnya ketika terjadi hujan lebat di kawasan Gunung Slamet,” katanya.
Ia mengakui, sejumlah objek wisata di bawah naungan Palawi—khususnya air terjun—sempat terdampak. Namun, proses pembersihan material banjir tengah dilakukan dan ditargetkan **paling lama satu bulan** sudah kembali normal.
“Langkah yang kami lakukan, tentunya membereskan material dampak banjir, dan paling lama satu bulan sudah bisa kembali normal,” ujarnya.
Farachin juga menekankan bahwa Baturraden tak hanya menawarkan wisata air. Beragam aktivitas lain seperti outbound, wahana keluarga, hingga wisata kuliner dan alam tetap bisa dinikmati wisatawan.
Sementara itu, Kepala UPT Lokawisata Baturraden, Suyanto, menjelaskan bahwa kenaikan debit Sungai Gumawang saat peristiwa lalu masih dalam batas wajar. Luapan air ke daratan, menurutnya, tidak membahayakan pengunjung.
“Potongan kayu yang terbawa arus bukan karena longsor atau pohon baru tumbang. Itu merupakan batang-batang yang sudah lama berada di sungai,” jelasnya.
Suyanto menambahkan, pengunjung tetap dapat menikmati berbagai wahana, mulai dari kolam renang, sepeda air, hingga sekadar bersantai menikmati suasana sejuk Baturraden sambil menyantap pecel atau sate.
Upaya pemulihan kepercayaan publik juga mendapat dukungan dari Founder Media Sosial Info Purwokerto, Irfan Bakhtiar. Ia menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang kerap menitikberatkan pada peristiwa, bukan pada proses pemulihan.
“Yang disebarkan kemarin adalah beritanya. Dampaknya, trust atau kepercayaan publik ikut terpengaruh,” kata pria yang akrab disapa Ibe.
Ia mendorong para pengelola dan pegiat wisata untuk aktif memproduksi konten yang menampilkan penanganan pasca peristiwa, proses pemulihan, serta jaminan keamanan.
“Masyarakat perlu tahu bagaimana recovery-nya, bagaimana langkah pengelola memastikan keamanan. Itu yang harus kita sampaikan ke publik,” tegasnya.
Melalui kampanye “Baturraden Aman”, para pelaku wisata berharap citra Baturraden kembali pulih—bukan sekadar sebagai destinasi alam, tetapi sebagai kawasan wisata yang tangguh, responsif, dan aman bagi setiap pengunjung.