Mustikarasa: Kitab Kuliner Indonesia yang Kembali Relevan untuk Generasi Hari Ini

Mustikarasa bukan sekadar buku kumpulan resep biasa. Ia adalah dokumen sejarah, sebuah proyek raksasa yang lahir dari visi besar Presiden Soekarno untuk membangun kemandirian bangsa melalui meja makan. Disusun di tengah gejolak politik dan ekonomi tahun 1960-an, buku ini menjadi saksi bisu upaya Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan pangan.

Embrio buku ini dimulai pada tahun 1960 atas prakarsa Menteri Pertanian saat itu, dr. Azis Saleh, yang kemudian didukung penuh oleh Bung Karno. Tujuannya sangat jelas: menciptakan panduan bagi rakyat di seluruh penjuru negeri agar mampu mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan yang lezat dan bergizi.

Proyek ini tidak main-main. Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi antar-departemen, instansi pemerintah, hingga organisasi perempuan. Bahkan, istri Bung Karno, Hartini, turut mengawal proses pengerjaannya sejak tahun 1964.

Penyusunan Mustikarasa melewati proses yang panjang dan metodis antara tahun 1962 hingga 1966. Tim tidak hanya menunggu kiriman resep secara pasif, tetapi juga melakukan langkah-langkah aktif:

  1. Survei Lapangan: Tiga sarjana muda nutrisi ditugaskan langsung ke berbagai daerah untuk mengumpulkan resep dari sumber aslinya.
  2. Cooking Test: Untuk memastikan akurasi, diadakan uji coba masak (cooking tests) bersama ibu-ibu di daerah guna merekonstruksi resep yang kurang jelas atau dianggap melenceng dari aslinya.
  3. Standardisasi: Tim penyusun melakukan koreksi ketat, membagi resep ke dalam rubrik tertentu, serta menentukan standarisasi ukuran yang saat itu belum ada di Indonesia.

Pada tahun 1965, jumlah penduduk Indonesia meledak hingga 105 juta jiwa. Produksi padi saat itu tidak lagi mencukupi konsumsi nasional. Menghadapi krisis ini, Pemerintah mengambil keputusan yang dianggap radikal revolusioner: merubah menu rakyat dari “beras melulu” menjadi menu yang bervariasi dengan jagung, umbi-umbian, ikan, dan daging.

Lembaga Teknologi Makanan bahkan dituntut kreatif menciptakan makanan baru dari bahan yang sering terabaikan, seperti bonggol teratai hingga rumput laut, demi memastikan tingkat kebudayaan dan kesehatan bangsa tetap terjaga.

Jejak Rasa dari Tlatah Banyumas dan Purwokerto

Dalam buku setebal ribuan halaman ini, wilayah Purwokerto dan Banyumas menyumbangkan kekayaan kulinernya yang khas. Resep-resep ini mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah hasil bumi, mulai dari yang masih populer hingga yang kini mulai jarang dijumpai:

  • Olahan Sayur: Sayur Lompong (batang talas), Sayur Bobor, Sayur Kumbu, dan Sayur Asem Batang Keladi.
  • Variasi Brongkos & Lodeh: Brongkos Tahu dengan kacang hijau, Brongkos Waluh, serta Lodeh Jantung Pisang yang dipadukan dengan daun melinjo dan kelapa.
  • Hidangan Khas: Botok Mlandingan (petai cina) dan Kare Kol yang menggunakan perpaduan daging dan kentang.

Kekuatan rasa ini bertumpu pada bumbu-bumbu dasar Nusantara yang otentik seperti bawang merah, lombok rawit, kemiri, ketumbar, hingga penggunaan keluwak yang memberikan kedalaman rasa pada masakan.

Mustikarasa adalah bukti bahwa urusan dapur adalah urusan kedaulatan. Melalui resep-resep sederhana seperti cara mengolah daun ketela pohon bagi rakyat di Jawa Tengah, buku ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati ada di tanah kita sendiri. Menghidupkan kembali resep-resep ini berarti merawat kembali jati diri dan kemandirian bangsa.