kehidupan memprihatinkan dialami dua kakak beradik warga dusun karang blimbing desa pekuncen Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. tanpa penghasilan tetap, keduanya bertahan hidup dengan mencari dan mengupas melinjo dari pekarangan warga sekitar. seperti apa keseharian mereka
BANYUMAS – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Karang Blimbing, Desa Pekuncen, Kabupaten Banyumas, dua kakak beradik bernama Karmilah dan Karminah menjalani hari-hari dengan keterbatasan yang serba minim. Keduanya tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak memiliki penghasilan pasti. Mereka menggantungkan hidup dari mencari dan mengupas melinjo di pekarangan milik warga sekitar.
Setiap pagi, Karmilah dan Karminah menyusuri jalan setapak yang membelah kebun dan ladang milik orang lain. Mereka melangkah perlahan sambil membawa karung kecil di tangan. Pekarangan warga menjadi tempat mereka bekerja. Mereka memungut biji melinjo yang jatuh dari dahan, lalu mengumpulkannya sebagai bekal untuk hari itu.
Setelah biji melinjo terkumpul, Karmilah dan Karminah duduk di teras rumah mereka. Mereka mengupas melinjo satu per satu dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja. Jika hasil kupasan sudah banyak, mereka menjualnya dengan harga sekitar enam ribu rupiah per kilogram. Uang itu mereka gunakan untuk membeli kebutuhan paling dasar, seperti beras dan gas untuk memasak.
“Kalau ada yang nyuruh ngupasin melinjo ya saya mau. Buat kerja. Uangnya buat beli beras, beli gas, biar bisa masak,” ujar Karmilah dengan suara pelan sambil tetap mengupas biji melinjo di pangkuannya.
Tidak jarang, jika tidak ada warga yang meminta jasa mengupas melinjo, Karmilah dan Karminah tidak memiliki penghasilan sama sekali. Kondisi itu membuat keduanya kerap bergantung pada uluran tangan tetangga.
“Ya kasihan. Kalau nggak ada yang ngasih apa-apa, ya nggak ada penghasilan. Kadang saya kasih makanan kalau ada lebih,” kata Suwarti, seorang tetangga yang sering memperhatikan kondisi mereka.
Menurut warga sekitar, Karmilah dan Karminah dikenal sebagai sosok yang sederhana dan jarang mengeluh. Mereka tetap menyapa siapa pun yang lewat, meski hidup dalam kondisi serba kekurangan. Warga berharap pemerintah desa dan dinas sosial memberikan perhatian agar keduanya bisa mendapatkan bantuan dan kehidupan yang lebih layak.
Kisah Karmilah dan Karminah menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup di bawah garis kesejahteraan. Di sudut Desa Pekuncen, dua kakak beradik itu terus menanti kehadiran negara untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar mereka.