PURWOKERTO – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia memaparkan arah kebijakan dan program prioritas pendidikan nasional dalam forum akademik di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Selasa (9/12).
Kegiatan ini menghadirkan Jumeri, Widyaprada Ahli Utama Kemendikdasmen RI sekaligus Dirjen PAUD-Dikdasmen periode 2020–2022, sebagai salah satu narasumber. Dihadapan ratusan peserta, Jumeri mengangkat tema “Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Acara tersebut dibuka oleh Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, dan dihadiri oleh
Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Prof. Cris Kuntadi, Chairman Mubarok Institute, Fadhil As Mubarok, Wakil Presiden Mubarok Institute, Prof. Sulkhan Chakim, serta sejumlah narasumber lain seperti Prof. Nur Kholis Setiawan, Prof. Sylviana Murni, dan Jumeri dari Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah
Jumeri menegaskan Kemendikdasmen komitmen dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan “Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045”. Paparan ini diikuti sivitas akademika, mahasiswa, tenaga pendidik, dan para pemangku kebijakan daerah.
Dalam paparannya, Jumeri menekankan bahwa pendidikan bermutu merupakan hak setiap warga negara sekaligus prasyarat utama pembangunan bangsa. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan berbagai regulasi pendidikan, termasuk UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, serta RPJPN 2025–2045.
“Kualitas pendidikan dasar dan menengah menentukan wajah Indonesia di masa depan. Lebih dari 30 persen penduduk kita berada pada usia sekolah. Kita tidak boleh gagal menyiapkan mereka menghadapi perubahan dunia,” tegas Jumeri.
Ia juga menyoroti tantangan global yang harus dijawab dunia pendidikan, seperti perkembangan kecerdasan artifisial, keamanan siber, transisi energi, ketahanan pangan, hingga perubahan iklim.
Kemendikdasmen memaparkan sejumlah data penting:
Angka Partisipasi Sekolah (APS) meningkat, namun beberapa daerah masih tertinggal.
60 persen SD masih membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana.
75% siswa usia 15 tahun masih memiliki kemampuan membaca di bawah standar PISA.
82% siswa usia 15 tahun memiliki kemampuan matematika di bawah level kompetensi minimum.
Kesenjangan kualitas belajar antarwilayah terutama antara barat dan timur Indonesia masih sangat mencolok.
“Data ini bukan untuk menyalahkan, tapi menjadi dasar bagi kita agar bergerak lebih cepat,” kata Jumeri.
Kemendikdasmen menjabarkan sederet program prioritas untuk mempercepat pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan:
1. Revitalisasi Infrastruktur Pendidikan
Tahun 2025, Kemendikdasmen mengalokasikan Rp17,15 triliun untuk revitalisasi 10.440 satuan pendidikan, mencakup PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan SKB.
Skema dilakukan secara swakelola oleh sekolah melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan melibatkan masyarakat.
2. Gerakan Penguatan Karakter
Melalui program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang telah diterapkan di 86% sekolah dan memecahkan Rekor MURI dengan 7,4 juta peserta senam bersama.
3. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pendekatan pembelajaran yang menekankan olah pikir, olah rasa, olah raga, dan olah hati agar pembelajaran menjadi berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
4. Peningkatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru
Tunjangan guru non-ASN: 395.967 guru dengan total Rp6,56 triliun.
Tunjangan profesi meningkat menjadi Rp2 juta per bulan.
Insentif guru honorer naik menjadi Rp400 ribu di 2026.
Beasiswa S1/D4 bagi guru diperluas hingga 150.000 peserta.
5. Inovasi Kurikulum
Penguatan literasi digital, pengenalan koding dan kecerdasan artifisial sebagai mata pelajaran pilihan SD kelas atas hingga SMA/SMK mulai 2026.
6. Transformasi PPDB (SPMB) Berbasis Inklusi Sosial
Empat jalur utama: Domisili, Afirmasi, Prestasi, dan Mutasi.
7. Digitalisasi Pembelajaran
Distribusi 278.000 papan interaktif digital dan penguatan platform Rumah Pendidikan sebagai pusat sumber belajar nasional.
UIN Saizu Purwokerto menyambut baik paparan Kemendikdasmen sebagai upaya memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pendidikan nasional. Forum ini menjadi ruang pertemuan antara kebijakan pemerintah, pengetahuan akademik, dan kebutuhan lapangan.
Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof Ridwan menyampaikan bahwa universitas siap berkontribusi dalam pengembangan guru, riset, inovasi kurikulum, hingga pendampingan sekolah melalui kemitraan strategis.
Mengakhiri paparannya, Jumeri menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak dapat dicapai oleh pemerintah pusat saja. “Pendidikan bermutu untuk semua membutuhkan sinergi: pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, kampus, dan masyarakat. Bersama-sama kita bisa mewujudkan generasi emas Indonesia.”