PURWOKERTO — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mematangkan seluruh aspek kesiapan operasional menjelang masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Langkah ini bukan hanya untuk memastikan keamanan perjalanan, tetapi juga menguji kesiapan menyeluruh operasional kereta api dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat.
VP KAI Daop 5 Purwokerto, Mohamad Arie Fathurrochman menegaskan bahwa kereta api memegang peranan strategis dalam mendukung pergerakan massal masyarakat yang hendak pulang ke kampung halaman. Oleh karena itu, setiap perjalanan harus direncanakan, dilaksanakan, dan diawasi secara cermat agar penumpang dapat tiba dengan aman, nyaman, dan selamat.
“Setiap potensi gangguan di jalur kereta harus diantisipasi karena dapat berdampak luas, tidak hanya pada perjalanan kereta api, tetapi juga konektivitas moda transportasi lain seperti bandara dan pelabuhan,” ujarnya.
Petakan Daerah Rawan Bencana
Sejak dua bulan terakhir, KAI telah melakukan pemetaan intensif terhadap sejumlah daerah rawan bencana. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama Dinas Perhubungan, BMKG, BNPB, Basarnas, serta instansi teknis lainnya.
Terdapat tiga titik yang menjadi perhatian khusus, yakni lintas Lebeng hingga Banjar yang memiliki potensi longsor berdasarkan kontur wilayah, meski belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, wilayah Jeruklegi juga dipantau ketat mengingat pengalaman banjir pada periode sebelumnya.
Sementara itu, di kawasan Prupuk–Linggapura, KAI menyoroti adanya gerusan Sungai Kali Pedes yang mendekati jalur rel. Kondisi tersebut telah ditangani oleh Balai Teknik Perkeretaapian untuk memastikan gerusan tidak mengancam keselamatan perjalanan kereta.
Tambah Personel dan Pengawasan Ekstra
Untuk mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem, KAI menambah personel di titik-titik rawan. Total terdapat 58 petugas ekstra yang dikerahkan, terdiri dari 50 petugas pemeriksa jalur ekstra, 5 petugas penjaga perlintasan ekstra, serta 3 petugas pengawas khusus yang secara kontinu memantau lokasi rawan.
“Begitu ada peringatan hujan lebat dari BMKG, informasi langsung kami sebarkan dua kali sehari. Bahkan sebelum terjadi banjir, saat hujan deras saja, pemeriksa jalur ekstra sudah kami siapkan di lapangan,” jelasnya.
KAI memprediksi jumlah penumpang pada masa Nataru 2025–2026 akan meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode sebelumnya. Puncak arus penumpang diperkirakan terjadi pada 28 Desember 2025.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, KAI menyiapkan tiga kereta api tambahan. Dua di antaranya merupakan KA baru, yakni KA Kutojaya Utara dan KA Kutojaya Selatan. Selain itu, KA Purwojaya yang sebelumnya hanya beroperasi pada akhir pekan, akan diregulerkan dan beroperasi setiap hari selama masa Nataru.
Dari sisi tarif, harga tiket KA Purwojaya diperkirakan berada di kisaran Rp208 ribu, menyesuaikan dari tarif sebelumnya sekitar Rp180 ribu.
Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, KAI optimistis mampu memberikan layanan transportasi yang andal, aman, dan nyaman bagi masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru mendatang.