Leonardus Benjamin Moerdani, yang lahir pada 2 Oktober 1932 di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merupakan sosok legendaris dalam sejarah militer Indonesia. Dikenal sebagai prajurit komando dan pakar intelijen, kariernya membentang dari masa Tentara Pelajar hingga menjabat sebagai Panglima ABRI serta Menteri Pertahanan dan Keamanan. Benny dikenal sebagai pribadi yang tegas, pendiam, dan memiliki keberanian luar biasa yang teruji di berbagai medan operasi, mulai dari Riau, Irian Barat, hingga Timor Timur. Namun, jauh sebelum memimpin angkatan bersenjata, sebuah peristiwa di wilayah Banyumas menjadi momen krusial yang membentuk karakternya sebagai prajurit.
Pada masa perang kemerdekaan telah memaksa para remaja Indonesia untuk tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya, tak terkecuali Leonardus Benjamin Moerdani. Di tengah masa gencatan senjata pasca-Persetujuan Linggarjati, semangat perjuangan Benny dan kakaknya, Harry, tidak surut. Alih-alih berdiam diri, mereka justru mencari cara untuk tetap berkontribusi bagi Republik. Peluang itu datang saat dinas penerangan pemerintah di Yogyakarta menawarkan misi berisiko: menyusup ke wilayah pendudukan Belanda untuk menyebarkan pamflet perjuangan.
Berdasarkan catatan Julius Pour dalam buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1993), misi ini membawa Benny pada pengalaman tempur yang tak terlupakan. Setelah mengambil materi pamflet di Yogyakarta, rombongan yang terdiri dari empat orang ini bergerak menuju dataran tinggi Dieng sebelum akhirnya berpencar. Harry menuju wilayah Pekalongan (di mana ia nantinya tertangkap di Brebes), sementara Benny bersama rekannya, Sugeng, mengemban tugas menyusup ke jantung pertahanan musuh di daerah Banyumas.
Ketegangan mencapai puncaknya di desa Karangsalam, sebuah wilayah kecil di Baturraden. Saat sedang berusaha menyeberangi jalan raya, Benny dan Sugeng terjebak dalam situasi mematikan. Tanpa diduga, mereka berpapasan langsung dengan satu regu patroli Belanda. Jaraknya sangat kritis, ditaksir tidak lebih dari lima meter. Dalam jarak sedekat itu, tentara Belanda langsung menghujani para gerilyawan muda ini dengan tembakan yang sangat gencar.
Menerima serangan mendadak tersebut, formasi Benny dan Sugeng seketika berantakan. Mereka segera berlari sekencang mungkin menjauhi jalan raya yang menjadi jalur patroli musuh. Meski ditembak bertubi-tubi dari jarak yang sangat mustahil untuk meleset, keajaiban terjadi; tidak satu pun peluru mengenai mereka. Mereka lolos tanpa luka sedikit pun.
Pengalaman pertama ditembak musuh di Karangsalam ini menjadi pelajaran batin yang sangat membekas bagi Benny. Alih-alih trauma, insiden ini justru menumbuhkan keyakinan unik dalam dirinya bahwa menembak orang bukanlah pekerjaan yang mudah. “Ini membuat saya lalu tidak takut kalau harus menghadapi pertempuran. Ditembak dari jarak dekat begitu saja tidak kena, apalagi kalau tembakannya datang dari jauh,” kenang Benny.
Peristiwa di Karangsalam, Baturraden, memang hanyalah kontak senjata skala kecil melawan satu regu patroli. Namun, pelajaran tentang “ketidakpastian peluru” di desa kecil itulah yang menjadi fondasi mental Benny Moerdani. Keberanian yang ditempa di tanah Banyumas ini nantinya ia bawa saat menghadapi pertempuran yang jauh lebih dahsyat di kampung halamannya, Solo, serta berbagai palagan besar di masa depan yang melambungkan namanya sebagai jenderal legendaris Indonesia.