Jejak Perjalanan Pangeran Willem Frederik Hendrik di Karesidenan Banyumas Tahun 1837

Jejak Pangeran Willem Frederik Hendrik di Karesidenan Banyumas (1837)

Pangeran Willem Frederik Hendrik (1820–1879), putra ketiga dari Pangeran Oranye (kelak Raja Willem II) sekaligus cucu dari Raja Willem I, mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai anggota keluarga Kerajaan Belanda pertama yang menginjakkan kaki di Nusantara. Tiba pada Februari 1837 di usia 17 tahun, pangeran yang kelak dijuluki “Sang Navigator” ini memulai babak paling menakjubkan dari kunjungannya pada bulan Juli 1837.

Ekspedisi daratnya menyusuri pedalaman Jawa Tengah, melintasi wilayah Karesidenan Banyumas, Bagelen (kini kawasan Purworejo), hingga Kedu, berubah menjadi sebuah petualangan eksotis. Perjalanan ini menyoroti keragaman topografi, kekayaan botani, serta budaya masyarakat lokal Jawa pada abad ke-19, dengan kontras alam yang dramatis dari pesisir Laut Selatan hingga puncak dataran tinggi bersuhu beku.

Juli menjadi saksi sebuah perjalanan besar. Tepat pada 12 Juli, Sang Pangeran meninggalkan Tanah Kerajaan menuju karesidenan Bagelen. Perjalanan ini membawa rombongan menuju Purworejo, sebuah ibu kota yang dikenal dengan iklimnya yang sehat dan lingkungannya yang masih murni.

Keberanian di Tebing Karang Bolong

Dua hari berselang, pada 14 Juli, petualangan sesungguhnya dimulai. Menggunakan kapal-kapal yang dihias cantik, rombongan menyeberangi Sungai Cincing Guling menuju tebing kapur raksasa di Karang Bolong.

Setelah menempuh jalur pegunungan dengan kereta tarik manusia dan kuda, mereka sampai di tepi laut lepas. Di sana, dari ketinggian seratus meter di atas deburan ombak yang liar, Pangeran menyaksikan pemandangan yang mendebarkan: para pengumpul sarang burung walet yang turun menggunakan tangga rotan ke dalam gua-gua karang yang dihantam ombak. Sarang-sarang ini adalah komoditas mewah yang sangat dicari oleh para pencinta kuliner, terutama warga Tionghoa, dengan harga rata-rata lima puluh sen per sarang.

“Tebing sarang burung bukanlah hal yang paling tidak penting dari apa yang telah dilihat sejauh ini,” catat Sang Pangeran terkesan.

Pesona “Batu Bunga” di Nusa Kambangan

Perjalanan berlanjut ke karesidenan Banyumas. Melalui kanal Kali Joso, rombongan mencapai Cilacap dan menyeberang ke Nusa Kambangan. Pulau ini dijuluki “Batu Bunga” karena hamparan semak dan bunga harum yang mewarnai pantainya.

Di jantung pulau ini, Sang Pangeran menemukan kekayaan alam yang eksotis:

  • Tanaman Parasit: Bunga merah raksasa seukuran kubis yang melilit pohon-pohon tua.
  • Bunga Wijayakusuma: Dikenal sebagai “Bunga Kaisar”, bunga ini dahulu hanya boleh dipetik oleh para pendeta untuk ritual penobatan penguasa Mataram.
  • Gua Mesigit Sela: Sebuah masjid alami berupa gua stalaktit yang megah, di mana cahaya obor menyinari formasi batu yang menyerupai bejana baptis abad pertengahan.

Menembus Dinginnya Dataran Tinggi Dieng

Rombongan kemudian bergerak menuju Purbalingga di lereng Gunung Slamet, sebelum akhirnya mendaki menuju Banjarnegara. Di ketinggian 4.000 kaki, udara mulai menggigit. Namun, tantangan sesungguhnya ada di Batur, pemukiman tertinggi di Jawa (6.000 kaki).

Di sana, fenomena alam yang luar biasa terjadi: di pagi hari, mereka menemukan lapisan es setebal koin tiga gulden! Sesuatu yang hampir mustahil dipercaya terjadi di tanah tropis seperti Jawa. Meskipun pendakian dan penurunan medan selama sepuluh jam sangat menyiksa, keindahan Telaga Menjer yang hijau gelap dan Telaga Warna yang magis di Pegunungan Dieng membayar tuntas semua rasa lelah.

Antara Mitos Lembah Kematian dan Borobudur

Satu tempat yang cukup melegenda, Gua Upas atau “Lembah Kematian”, ternyata tak seseram reputasinya. Saat dikunjungi di musim kemarau, gas beracun yang biasanya mematikan bagi hewan yang melintas di sana sedang melemah. Sang Pangeran yang berhati lembut pun merasa lega karena tidak perlu melihat hewan-hewan mati karena uap tersebut.

Perjalanan panjang ini akhirnya berakhir di karesidenan Kedu. Pada 23 Juli, rombongan tiba di Magelang, dan beberapa hari setelahnya, mereka mencapai tujuan agung mereka: Borobudur, kuil megah yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian ekspedisi bersejarah ini.