Istri Buruh Tambang Harap Keadilan, Anak Alami Bullying karena Ayah Ditahan

oleh Tim Redaksi

BANYUMAS – Harapan akan keadilan disuarakan oleh Mei Kristiani, istri seorang buruh tambang bernama Slamet, yang saat ini tengah menjalani proses hukum dan ditahan. Mei mengungkapkan dampak berat yang dirasakan keluarganya, mulai dari tekanan ekonomi hingga kondisi psikologis anaknya yang menjadi korban perundungan di sekolah.

Dalam keterangannya kepada media, Mei menuturkan bahwa sejak sang suami ditahan, kehidupan rumah tangganya berubah drastis. Selain kehilangan sumber penghasilan utama, anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMP kelas 1 mengalami bullying dari teman-temannya.

“Kepada Bapak atau Ibu Hakim, saya mohon agar suami saya bisa dibebaskan. Dampaknya besar sekali bagi kami. Secara ekonomi kami kesulitan, anak saya juga sampai tidak mau sekolah karena dibully teman-temannya,” ujar Mei dengan suara bergetar.

Anak Tak Masuk Sekolah karena Tekanan Mental

Mei menceritakan, anak perempuannya sempat tidak masuk sekolah selama hampir 10 hari. Ia baru mengetahui penyebabnya setelah melihat pesan di ponsel sang anak yang berisi ejekan dari teman-temannya.

“Ada yang bilang, ‘Ayah kamu aja di penjara, kalau ayahnya buruk pasti anaknya juga buruk.’ Anak saya sampai bertanya ke saya, ‘Emang ayah jahat?’ Padahal tidak semua yang masuk penjara itu orang jahat,” ungkapnya.

Menurut Mei, anaknya yang dikenal pendiam dan dekat dengan sang ayah itu kini sering mengeluh sakit perut dan mengalami asam lambung akibat tekanan pikiran. Berkat bantuan dari saudara, anaknya akhirnya kembali bersekolah dalam dua hari terakhir.

Beban Ekonomi Kian Berat

Selain dampak psikologis, Mei juga menghadapi tekanan ekonomi. Kebutuhan rumah tangga, biaya listrik, hingga pembayaran sekolah anak menjadi tantangan harian sejak suaminya tidak lagi bekerja.

“Saya ibu rumah tangga. Biasanya suami yang bekerja untuk membantu kebutuhan kami. Sekarang malah semuanya jadi serba sulit,” katanya.

Mei menambahkan, dirinya memiliki tiga anak. Anak pertama telah menikah dan memiliki seorang cucu yang juga sempat sakit karena rindu dengan sang kakek. Anak kedua masih kuliah, sementara anak ketiga yang paling terdampak secara emosional masih duduk di bangku SMP.

Harap Keadilan dari Aparat dan Pengadilan

Mei berharap proses hukum terhadap suaminya dapat berjalan secara adil dan mempertimbangkan dampak sosial terhadap keluarga, terutama anak-anak.

“Saya percaya kepada Ibu Hakim. Saya sebagai sesama perempuan berharap hati saya bisa dipahami. Saya hanya ingin suami saya cepat keluar dan kembali bekerja untuk keluarga,” ucapnya.

Sementara itu Advokat Djoko Susanto SH mengungkapkan ini adalah upaya mengetuk keadilan kepada hakim.

” Kita berupaya agar hakim adil dan para terdakwa bisa dibebaskan, ” ungkapnya.