Hari Ibu di Balik Jeruji: Momentum Pemulihan Peran Perempuan dan Hubungan Keluarga di Rutan Banyumas

oleh Tim Redaksi

BANYUMAS — Peringatan Hari Ibu di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banyumas tahun ini dimaknai secara berbeda. Alih-alih seremoni, peringatan tersebut diarahkan sebagai ruang refleksi dan pemulihan—baik bagi petugas perempuan pemasyarakatan maupun Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)—untuk kembali menafsirkan peran perempuan, kekuatan kasih seorang ibu, serta peluang memperbaiki relasi keluarga.

Kegiatan yang digelar secara sederhana namun sarat makna itu mendorong para petugas perempuan menghadirkan sentuhan empati dalam pelayanan pemasyarakatan. Sementara bagi WBP, khususnya perempuan, momen Hari Ibu menjadi ajakan untuk melakukan perenungan personal: tentang sosok ibu dalam hidup mereka, maupun peran yang mereka emban sebagai seorang ibu.

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Banyumas, Cakra Citra Sari, menegaskan bahwa Hari Ibu merupakan pengingat akan fondasi nilai kasih, ketulusan, dan keteladanan.

“Nilai ketulusan dan kekuatan seorang ibu diharapkan menjadi inspirasi bagi WBP untuk memperbaiki diri, menumbuhkan empati, serta membangun kembali hubungan keluarga sebagai bekal reintegrasi sosial,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Rutan Kelas IIB Banyumas, Anggi Febiakto. Menurutnya, peringatan Hari Ibu memiliki nilai strategis dalam proses pembinaan.

“Kami ingin memperkuat penghormatan terhadap perempuan sekaligus memotivasi WBP agar menjalani pembinaan dengan lebih baik. Perempuan memiliki peran penting dalam keluarga, dan kegiatan ini menjadi ruang pemulihan diri serta pemulihan relasi sosial,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diisi dengan sharing circle bersama petugas perempuan yang membahas ketahanan mental, makna ketulusan, dan pentingnya dukungan sesama. Selain itu, digelar pula sesi motivasi singkat mengenai peran perempuan pascapembinaan, termasuk kesiapan mental dan sosial untuk kembali ke tengah masyarakat.

Nuansa emosional terasa kuat ketika sejumlah WBP perempuan membagikan kisah reflektif mereka. Melati (35), bukan nama sebenarnya, mengaku terharu mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya salah, tapi saya ingin pulang dalam keadaan berbeda. Ingatan tentang ibu saya yang sabar membuat saya kuat menjalani pembinaan,” tuturnya, sembari menulis surat untuk sang ibu.

WBP lainnya, Mawar (40), juga menyampaikan harapannya untuk kembali menjadi ibu yang lebih baik.

“Saya ingin membuktikan kepada anak bahwa ibu bisa berubah dan kembali jadi pelindung, bukan beban,” ucapnya lirih.

Momentum Hari Ibu ini dimanfaatkan Rutan Banyumas sebagai sarana pemulihan relasi antara WBP dan keluarga. Fasilitasi komunikasi keluarga, ruang konseling singkat, serta penguatan nilai penghormatan terhadap perempuan menjadi bagian dari pendekatan pembinaan karakter yang diterapkan.

Melalui kegiatan ini, WBP didorong untuk berani membuka dialog emosional, mengakui kesalahan, memohon maaf, dan memperbaiki hubungan keluarga sebagai langkah awal menuju reintegrasi sosial.

Peringatan Hari Ibu di Rutan Kelas IIB Banyumas menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan semata soal menjalani hukuman, melainkan tentang memanusiakan, menyembuhkan, dan mengembalikan harapan. Dari balik jeruji, perempuan kembali belajar memeluk nilai kasih, ketulusan, dan pengorbanan—sebuah kekuatan yang diyakini mampu membuka jalan pulang menuju keluarga dan masa depan yang lebih baik.

Dengan pendekatan humanis tersebut, Rutan Banyumas menegaskan komitmennya menjadikan pembinaan bukan sekadar kewajiban negara, melainkan ruang tumbuh bagi perempuan untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih utuh dan siap memulai babak baru kehidupan.