Ketua Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Ketua Komisi II DPRD Banyumas, Agus “Nova” Priyanggodo, meninjau lokasi bencana angin puting beliung di Desa Kutayasa, Kecamatan Sumbang, Sabtu (17/01/2026).
BANYUMAS — Angin puting beliung yang menerjang Desa Kutayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, menyisakan dampak luas bagi ratusan warga. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, sebanyak 169 rumah terdampak, dengan rincian 165 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan empat rumah rusak berat.
Wilayah yang paling terdampak berada di RW 03 dengan 156 kepala keluarga (KK), disusul RW 05 sebanyak 13 KK. Sebanyak 69 KK terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat sambil menunggu perbaikan hunian mereka.
Menanggapi kondisi tersebut, DPRD Kabupaten Banyumas mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) agar bergerak cepat dan tepat dalam penanganan pascabencana. Selain mengoptimalkan anggaran APBD, DPRD juga membuka peluang pemanfaatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari BUMD maupun pihak swasta untuk mempercepat pemulihan warga terdampak.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Ketua Komisi II DPRD Banyumas, Agus Priyanggodo, mengatakan pihaknya telah menghubungi sejumlah institusi perbankan dan perusahaan agar ikut berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial.
“Sedang didata apa saja kebutuhannya, termasuk dari PMI. Ada juga CSR dari BKK, BRI, dan Bank Jateng. Kami hubungi melalui surat resmi agar ada kepedulian bersama,” ujar Agus saat meninjau lokasi bencana, Sabtu (17/01/2026).
Agus—yang akrab disapa Agus “Nova”—menyampaikan keprihatinannya atas musibah yang menimpa warga Kutayasa. Ia menegaskan DPRD telah berkoordinasi dengan Bupati Banyumas, BPBD, serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Dinperkim) untuk memastikan langkah penanganan berjalan maksimal.
“Kami langsung koordinasi dengan BPBD, Dinas Perkim, dan Bupati. Prinsipnya, langkah maksimal akan segera dilakukan,” katanya.
Secara regulasi, lanjut Agus, Pemkab Banyumas telah memiliki skema dana kedaruratan dan dana tanggap darurat yang dapat digunakan di seluruh wilayah kabupaten. Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dan semangat gotong royong agar pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.
“Konsepnya kolaborasi dan kepedulian terhadap bencana. Rumah rusak itu dilihat kebutuhannya, apakah perlu tenaga teknisi, logistik, atau relawan. Insyaallah dikerjakan secara gotong royong, termasuk melibatkan organisasi masyarakat seperti Pemuda Pancasila,” tuturnya.
Dari sisi logistik, Agus memastikan stok bantuan relatif aman. BPBD dan PMI telah menyiapkan persediaan, ditambah dukungan dari MBG. Tantangan utama saat ini adalah ketersediaan tenaga harian dan tenaga profesional untuk mempercepat perbaikan rumah warga.
“Perkiraan tenaga harian yang dibutuhkan sekitar 30 sampai 50 orang. Untuk tenaga profesional tinggal dihitung kebutuhannya berapa hari. Targetnya dalam tiga sampai lima hari ke depan sudah selesai,” jelasnya.
Hingga kini, proses pendataan kebutuhan warga masih terus dilakukan, mencakup logistik, tenaga kerja, serta dukungan relawan. Pemerintah daerah berharap sinergi antara APBD, CSR, dan partisipasi masyarakat dapat mempercepat pemulihan, sehingga warga Kutayasa dapat kembali menempati rumah mereka dengan aman dan layak.