Dialek Banyumas “Bukan Ngapak” Sebagai Obyek Kajian Akademis sejak Masa Hindia Belanda

Jejak Literasi Dialek Banyumas Dalam Buku Het Dialect van Banjoemas

Dialek Banyumas Bukan Ngapak

Bahasa Jawa dialek Banyumas merupakan dialek yang dituturkan di wilayah Jawa Tengah bagian barat. Wilayah penuturannya mencakup eks-keresidenan Banyumas (meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan sebagian Kebumen) serta eks-keresidenan Pekalongan (meliputi Tegal, Brebes, Pemalang, Batang, dan Pekalongan). Secara geografis, dialek Banyumas berbatasan langsung dengan bahasa Sunda di sebelah barat dan bahasa Jawa di sebelah timur. Dialek ini dipandang oleh sejumlah ahli sebagai bentuk bahasa Jawa asli karena masih memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan fonetik bahasa Jawa Kuno.

Awal Mula dan Perkembangan Bahasa

Sejarah awal mula dialek Banyumas melalui tahapan yang panjang seiring dengan dinamika munculnya kerajaan-kerajaan di pulau Jawa. Tahap-tahap perkembangannya adalah sebagai berikut:

  • Abad ke-9 hingga ke-13: Dialek ini masih menjadi bagian yang menyatu dengan bahasa Jawa Kuno.
  • Abad ke-13 hingga ke-16: Bahasa ini berevolusi dan berkembang menjadi bahasa Jawa abad pertengahan.
  • Abad ke-16 hingga ke-20: Dialek Banyumas mulai memisahkan diri dan berkembang terpisah dari dialek wilayah timur dan tengah.

Hardjakoesoema Sang Inisiator Penelitian Dialek Banyumas

Meskipun memiliki akar sejarah bahasa yang kuat, dialek Banyumas sempat terabaikan dari pantauan para ilmuwan pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Selama berpuluh-puluh tahun, para ahli bahasa seperti C. T. Winter dan Prof. Roode yang menyusun tata bahasa Jawa hanya berfokus pada dialek Solo, dan tidak menyertakan bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Banyumas. Keunikan dialek ini baru mulai disadari sedikit ketika K. Knebel mempublikasikan naskah Babad Banjoemas pada tahun 1904.

Sejarah mencatat bahwa sosok inisiator yang pertama kali menyelidiki dan meneliti dialek Banyumas secara khusus adalah Hardjakoesoema, yang merupakan putra asli Banyumas sendiri. Ia memulai kariernya sebagai penulis di kantor Patih Kabupaten Indramayu pada tahun 1903, dan kemudian diangkat menjadi jaksa pada tahun 1907. Berkat inisiatif dan penyelidikan pionirnya, hasil studinya berhasil dibukukan dengan judul Het Dialect van Poerwokerto en Poerbalingga pada bulan Desember 1913. Langkah perintis yang dipelopori oleh Hardjakoesoema inilah yang meletakkan dasar pemahaman umum bahwa terdapat perbedaan nyata antara bahasa Jawa yang dituturkan di wilayah Banyumas dengan bahasa Jawa di wilayah Solo.

Karya Monumental Het Dialect van Banjoemas

Penelitian awal yang dirintis oleh Hardjakoesoema kemudian disempurnakan lebih jauh melalui karya leksikografi dan tata bahasa yang sangat komprehensif berjudul Het Dialect van Banjoemas. Buku monumental ini ditulis oleh Dr. B. J. Esser, seorang pendeta misionaris dari Gereformeerde Kerk bergelar doktor teologi dari Vrije Universiteit te Amsterdam (1905) yang mulai melayani di wilayah Banyumas pada tahun 1909. Berbeda dengan beberapa peneliti dari kalangan misionaris lainnya, penelitian Dr. Esser murni didorong oleh inisiatif pribadinya.

Karya ini pada mulanya lahir dari naskah jawaban Dr. Esser untuk sayembara lembaga Bataviaasch Genootschap pada tahun 1912, yang berhasil memenangkan penghargaan medali perak berlapis emas. Naskah tersebut kemudian diterbitkan secara resmi pada tahun 1927 oleh penerbit G. Kolff & Co di Weltevreden.

Dalam bukunya, Dr. Esser memfokuskan penelitian pada dialek Banyumas seperti yang dituturkan di Kabupaten Purbalingga dan Purwokerto. Ia menyusun sebuah glosarium ekstensif berisi 944 kata, di mana ia secara khusus hanya memasukkan kata-kata yang tidak tercatat dalam kamus bahasa Jawa standar. Untuk menjaga akurasi, Dr. Esser melakukan perbandingan teliti dengan bantuan mantan pengajar bahasa Jawa di Universitas Leiden, R. Ngabei Poerbatjaraka, serta dibantu koreksinya oleh dua orang pegawai Balai Pustaka asli Banyumas, yakni R. Soemantri dan Soepan.

Kajian ini juga mendokumentasikan fonologi dan tata bahasa yang sangat khas. Dr. Esser mencatat aturan pengucapan unik, seperti huruf ‘a’ terbuka di akhir kata yang dilafalkan dengan penutup ‘k’, huruf ‘o’ yang dilafalkan sebagai ‘oe/u’ (seperti omah menjadi umah), serta konsonan ‘m’ awal yang diucapkan dengan sedikit aspirasi. Di bidang tata bahasa, ia menyoroti penggunaan kata ganti orang seperti inyong dan rika, yang secara mutlak menggantikan akoe (aku) dan kowè pada dialek Solo.

Eksistensi dialek Banyumas bermula dari jejak pelestarian bahasa Jawa Kuno yang mengalami perpisahan kultural dari wilayah timur dan tengah Jawa. Akan tetapi, dialek ini berhasil masuk ke dalam peta literatur dan keilmuan bahasa secara akademis berkat dedikasi Hardjakoesoema sebagai inisiator utamanya, yang kemudian disempurnakan secara mendalam oleh Dr. B. J. Esser melalui kolaborasinya dengan cendekiawan bumiputra.


Daftar Referensi

  • Esser, B. J. (1927). Het Dialect van Banjoemas, Inzonderheid Zooals Dit in de Regentschappen Poerbolinggo en Poerwokerto Gesproken Wordt. Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Deel LXVIII. Weltevreden: G. Kolff & Co.
  • Poestaha Depok: Sejarah Bahasa (49): Bahasa Banyumas dan Dialek Banjoemas dan Dialek Banyumasan; Bahasa Jawa di Timur-Bahasa Sunda di Barat (Artikel, 2023).