Di Tengah Revolusi AI, Mampukah Profesi Dokter Bertahan?

oleh Tim Redaksi

Oleh: Satyakinasih Fatima Sekaringtyas*

Perkembangan artificial intelligence (AI) dalam satu dekade terakhir telah menggeser banyak batasan yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin ditembus. AI kini tidak hanya membantu menyederhanakan pekerjaan sehari-hari seperti brainstorming, menerjemah, atau mengolah data, tetapi juga telah memasuki wilayah teknis yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Banyak profesi bahkan dinilai berisiko tergantikan oleh otomatisasi—mulai dari kasir, penulis, penerjemah, hingga analis data. Penggunaan self-checkout di supermarket, chatbot cerdas, dan aplikasi berbasis machine learning telah menjadi pengalaman keseharian kita.

Di tengah perubahan besar itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih sensitif dan kompleks: apakah profesi dokter juga berada dalam ancaman pergantian oleh teknologi? Pertanyaan ini tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga moral, etik, dan humanis dalam praktik kedokteran.

Pertanyaan tersebut relevan mengingat AI telah diaplikasikan secara intensif di sektor kesehatan. Mesin kini dapat membaca CT scan, MRI, dan X-ray dengan tingkat akurasi mengungguli tenaga medis dalam beberapa kasus tertentu. AI juga digunakan dalam simulasi pengembangan obat, pemodelan penyakit, manajemen operasional rumah sakit, serta pengelolaan catatan kesehatan elektronik. Bahkan prosedur telesurgery—operasi jarak jauh berbasis robot—menjadi bukti bahwa batas spasial dalam dunia medis mulai memudar. Meski belum menjadi standar di Indonesia, transformasi digital di bidang kesehatan tidak bisa lagi diabaikan.

Namun, melihat profesi dokter hanya sebagai kemampuan teknis jelas merupakan penyederhanaan. Dokter tidak hanya meresepkan obat atau menjalankan tindakan medis. Di ruang praktik, dokter memegang tanggung jawab jauh lebih besar: membangun komunikasi, membaca emosi pasien, mendukung mental pasien, dan mengambil keputusan moral yang mempengaruhi hidup seseorang. Semua itu membutuhkan empati—sebuah elemen yang menjadi batas terkuat antara kemampuan manusia dan kecerdasan buatan.

Pada kunjungan akademik ke Rumah Sakit Dokter Soetomo (RSDS) Surabaya pada 23 Oktober 2025, saya berkesempatan mewawancarai dr. Hanik Badriyah Hidayati, Sp.N, Subsp. NN (K), AIFO-K. Dari dialog tersebut, tampak jelas bahwa praktik kedokteran yang bermakna tidak hanya dibangun melalui ilmu dan kecanggihan teknologi, tetapi melalui komunikasi antarmanusia yang sifatnya sangat personal. Dr. Hanik menegaskan empat prinsip komunikasi yang mendasari interaksi dokter–pasien, yang sekaligus menggambarkan batasan AI dalam menggantikan manusia.

Pertama, persiapan klinis sebagai landasan komunikasi yang kredibel.
Sebelum bertemu pasien kita harus berilmu,” ujar dr. Hanik.
Ia menekankan bahwa komunikasi efektif diawali oleh persiapan yang matang melalui literatur, jurnal, dan bukti ilmiah terbaru. Tanpa pengetahuan, dokter tidak bisa memberi penjelasan yang terstruktur dan dapat dipercaya. Dalam konteks ini, AI memang dapat membantu menyediakan data, tetapi keputusan klinis dan cara penyampaiannya tetap membutuhkan pertimbangan moral dan konteks kemanusiaan yang hanya dimiliki manusia.

Kedua, membangun kepercayaan sebagai fondasi perawatan.
Kepercayaan adalah pilar sentral yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma. Komunikasi jujur, hangat, dan bertanggung jawab melahirkan hubungan terapeutik yang membuat pasien merasa aman. Penelitian Kwame & Petrucka (2021) menyatakan bahwa hubungan berbasis kepercayaan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan berdampak langsung pada kesembuhan. AI dapat memberi jawaban cepat, tetapi ia tidak bisa membangun relasi emosional atau mengisi ruang kepercayaan tersebut.

Ketiga, membantu pasien berdamai dengan kondisi mentalnya.
Banyak pasien datang bukan hanya membawa keluhan fisik, tetapi juga beban psikologis yang kompleks. Di sinilah empati memainkan peran vital. Dokter harus mampu mendengarkan tanpa menghakimi, membaca gestur nonverbal, serta memberikan harapan yang realistis. AI, betapapun canggihnya, tidak memiliki kemampuan moral maupun pengalaman emosional untuk melakukan pendampingan semacam ini.

Keempat, menghormati hak otonomi pasien.
“Saya menyampaikan apa yang terbaik, tetapi keputusan tetap milik pasien,” ujar dr. Hanik.
Otonomi pasien—sebagaimana diatur dalam UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan—adalah prinsip etik yang mengharuskan dokter menghargai pilihan individu setelah memberikan informasi yang lengkap. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi ia tidak memahami nilai hidup seseorang, situasi keluarga, atau kecemasan batin yang mempengaruhi keputusan medis.

Keempat aspek tersebut menunjukkan bahwa profesi dokter tidak hanya terdiri dari kompetensi teknis, tetapi juga kompetensi moral, psikologis, dan sosial yang tidak bisa diotomatisasi. AI dapat membaca data, tetapi tidak dapat memahami manusia. Dalam dunia medis, pemahaman manusia justru menjadi inti pelayanan.

Jika ditinjau lebih luas, perkembangan AI lebih tepat dipandang sebagai alat bantu daripada ancaman. Teknologi dapat membantu mempercepat diagnosis, meminimalkan kesalahan, meningkatkan manajemen rumah sakit, dan memperluas akses ke layanan kesehatan. Namun, keputusan medis sering kali bukan sekadar persoalan benar atau salah—melainkan persoalan nilai, makna, dan kemanusiaan. Di titik itulah peran dokter tetap tak tergantikan.

Selain itu, ada pertimbangan sosial dan etik yang membuat profesi dokter berbeda dari profesi lain yang mungkin lebih mudah digantikan otomatisasi. Masyarakat pada umumnya tidak akan mempercayakan nyawa mereka sepenuhnya pada mesin, terutama dalam situasi penuh ketidakpastian. Rasa aman, dukungan emosional, dan kehadiran dokter sebagai manusia tetap menjadi kebutuhan fundamental pasien.

Namun demikian, tidak berarti dokter boleh berpuas diri. Justru revolusi AI menuntut dokter untuk meng-upgrade diri: meningkatkan literasi digital, mempelajari teknologi kesehatan terbaru, dan memanfaatkan AI untuk meningkatkan pelayanan. Dokter masa depan harus mampu menjadi penghubung antara teknologi dan kemanusiaan: memadukan kecerdasan ilmiah dengan kecerdasan emosional.

Dari refleksi ini, tampak jelas bahwa profesi dokter tidak berada dalam ancaman tergantikan oleh AI. Yang berubah bukan profesinya, tetapi cara kerja profesi tersebut. Dokter tetap akan menjadi pusat layanan kesehatan, tetapi peran mereka akan semakin strategis dalam interpretasi klinis, pengambilan keputusan etis, dan pendampingan emosional.

Pada akhirnya, AI dapat meniru kemampuan kognitif manusia dalam membaca data medis, tetapi ia tidak bisa meniru empati—kemampuan untuk merasakan, memahami, dan merespons perasaan orang lain. Empati bukan sekadar atribut dalam kedokteran—ia adalah jantung dari profesi tersebut. Selama penyembuhan masih melibatkan sisi emosional dan relasi manusiawi, profesi dokter akan tetap dibutuhkan dan dihormati, bahkan di tengah transformasi digital terbesar dalam sejarah manusia.

*) Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga