Dewan Kesenian Banyumas Apresiasi “Tadarus Sastra” Dorong Budaya Baca dan Literasi Anak Muda

BANYUMAS – Upaya menghidupkan kembali budaya membaca dan literasi di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, terus digelorakan berbagai komunitas di Kabupaten Banyumas. Salah satunya melalui kegiatan bertajuk Tadarus Sastra yang digelar Komunitas Serayu Penawaran dan mendapat apresiasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Banyumas.

Wakil Ketua Bidang Eksternal Dewan Kesenian Banyumas (DKKB), Bambang Widodo, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan sastra, budaya, dan nilai pendidikan tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi “pupuk” penting untuk menumbuhkan kembali minat baca di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah kita semua masih diberi kesehatan sehingga bisa berkumpul dalam kegiatan yang luar biasa ini. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Komunitas Serayu Penawara bersama Sanggar Seni Samudra dan para penggerak sastra yang terus menghidupkan dunia literasi di Banyumas,” ujar Bambang Widodo yang akrab disapa Dodit.

Kegiatan yang digagas oleh DKKB ini dikemas dengan nuansa budaya dan pendidikan, serta menghadirkan berbagai penampilan karya sastra seperti pembacaan puisi, diskusi literasi, hingga pertunjukan seni.

Dodit menilai, gerakan literasi semacam ini penting untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca yang dinilai semakin menurun. Berdasarkan berbagai survei literasi, tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong memprihatinkan.

“Kalau ditanya apakah budaya membaca di Banyumas sudah subur, tentu jawabannya belum sepenuhnya. Karena itu kegiatan seperti ini sangat penting sebagai upaya menanam ‘benih’ literasi agar masyarakat kembali gemar membaca,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan literasi di era digital, terutama penggunaan gawai oleh anak-anak. Menurutnya, perlu ada pengaturan yang lebih bijak agar generasi muda tidak sepenuhnya tenggelam dalam penggunaan ponsel pintar.

Dodit menyebut sejumlah negara telah menerapkan pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anak. Ia berharap Indonesia juga dapat mengarah pada kebijakan yang melindungi anak dari dampak negatif penggunaan gawai berlebihan.

“Di beberapa negara bahkan ada aturan usia anak yang boleh menggunakan ponsel. Ini menjadi perhatian kita bersama agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca, belajar, dan mengenal budaya,” jelasnya.

Ia menambahkan, perpustakaan juga perlu kembali dihidupkan sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi generasi muda. Dengan dukungan komunitas, pemerintah, serta para pegiat literasi, budaya membaca di Banyumas diharapkan dapat tumbuh kembali.

“Semoga kegiatan ini menjadi pemicu bagi lahirnya gerakan literasi yang lebih besar. Anak-anak muda harus mulai mengenal sastra, sejarah, dan budaya daerahnya sendiri,” katanya.

Kegiatan Tadarus Sastra ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ekosistem literasi di Banyumas, sekaligus membuka ruang bagi para seniman, penulis, dan generasi muda untuk terus berkarya melalui dunia sastra.

Djarot C Srtyoko : Puisi Tak Menyebut Nama Tuhan, Namun Menghadirkan-Nya: Refleksi Spiritual dalam Tadarus Sastra

Sebuah refleksi spiritual yang mendalam mewarnai kegiatan tadarus sastra di Banyumas. Dalam suasana khidmat, seorang penasehat sastra menyampaikan bahwa puisi tidak selalu harus menyebut nama Tuhan secara langsung untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan. Justru, menurutnya, keindahan estetika dalam puisi sering kali menjadi jalan sunyi bagi manusia untuk merasakan kehadiran Ilahi.

Hal itu disampaikan Djatot C Setyoko selaku Sekretaris DKKB yang hadir dalam acara Tadarus Sadtra di Sanggar Seni Samudra, Jumat 13 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa puisi pada hakikatnya adalah sublimasi kesadaran manusia. Dari pergulatan batin dan pengalaman hidup, lahirlah ungkapan rasa yang kemudian menjelma menjadi keindahan bahasa.

“Tidak secara kata-kata menyebut nama Tuhan sebenarnya puisi yang kita sublimasikan dari kesadaran kita menjadi rasa keindahan, menjadi rasa estetik,” ujarnya di hadapan peserta yang hadir.

Menurutnya, kesadaran tentang keberadaan Tuhan sering kali hadir secara alami dalam kehidupan manusia, tanpa harus dicari secara rasional. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam dunia bisnis maupun kehidupan sosial, manusia tetap berada dalam kesadaran spiritual yang sama.

Pada kesempatan tersebut, ia mengaku tidak ingin membacakan terlalu banyak puisi. Namun dari sejumlah karya yang ditulisnya, ia memilih membacakan dua larik dari sebuah puisi panjang berjudul “Magrib di Masjid Keraton.”

Puisi itu, kata dia, lahir dari pengalaman batin ketika mencoba mencari Tuhan dengan akal pikiran. Namun justru saat akal itu ditenangkan, kehadiran Tuhan terasa begitu dekat.

Ia kemudian membacakan dua larik puisi yang menjadi inti perenungannya:

“Ketika saya mencoba mencari Tuhan dengan akal saya, tidak saya temukan.

Ketika saya menutup akal dan mendengarkan batin, tiba-tiba Gusti Allah hadir begitu saja di dalam diri saya.”

Larik sederhana itu memancing perenungan para peserta. Sang penasehat kemudian mengajak para hadirin untuk merenungkan pengalaman spiritual masing-masing.

Ia bertanya kepada peserta apakah mereka pernah merasakan hal serupa ketika membaca kitab suci dalam agama masing-masing. Baik Al-Qur’an, Alkitab, maupun kitab suci agama lain, menurutnya, sering menghadirkan pengalaman batin yang tidak selalu bisa dijelaskan secara logika.

“Apakah teman-teman sudah menemukan itu ketika membaca surat-surat di dalam kitab kita?” tanyanya.

Ia menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting sebagai jembatan antara rasio dan rasa. Puisi tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga ruang kontemplasi yang mengajak manusia kembali pada kedalaman batin.

Menutup penyampaiannya, ia berharap sastra tetap menjadi ruang perjumpaan spiritual lintas keyakinan, tempat manusia menemukan makna kehidupan melalui bahasa yang indah dan reflektif.

Acara kemudian ditutup dengan doa dan salam, menandai refleksi yang sarat makna.