Bagi masyarakat di Desa Rempoah dan Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden, istilah Pancakoa bukanlah sesuatu yang asing, meski identik dengan kesan sunyi. Selama puluhan tahun, nama ini dikenal sebagai sebuah tempat terpencil di pedalaman desa, terletak di dekat pemakaman umum dan aliran sungai yang melintasi kedua desa tersebut.
Namun, di balik lokasinya yang tersembunyi dan berdekatan dengan tempat peristirahatan terakhir, Pancakoa menyimpan misteri sejarah yang jauh lebih besar dari sekadar nama wilayah. Di masa silam, tempat ini menjadi saksi bisu dari strategi perang gerilya yang unik dan mematikan.
Pancakoa bukan sekadar istilah tempat, melainkan sebuah sandi bagi unit pejuang yang menggunakan metode non-konvensional untuk melumpuhkan kekuatan Belanda di tanah Banyumas.
Pasca Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, peta kekuatan di Jawa Tengah berubah drastis. Belanda berhasil menduduki kota-kota besar seperti Purwokerto, Banyumas, hingga Pekalongan. Namun, pendudukan ini tidak berjalan mulus. Otoritas Belanda melaporkan lonjakan aksi “bandit” dan sabotase yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Indonesia.
Laporan intelijen Belanda periode September hingga Oktober 1948 mencatat kekacauan yang masif: 280 perampokan, 193 penembakan, dan puluhan aksi pembakaran. Bagi Belanda, ini adalah tindak kriminalitas brutal. Namun bagi Republik, ini adalah bagian dari strategi perang atrisi (pelemahan) untuk menguras logistik dan mental musuh.
Dalam kondisi terjepit dan minim logistik, militer Indonesia mengambil langkah ekstrem dengan membentuk unit-unit khusus yang bertugas melakukan pencurian terhadap aset musuh. Salah satu yang paling fenomenal dibentuk di Wangon, Purwokerto.
Kelompok ini secara resmi dikenal sebagai Barisan Maling (Barisan Pencuri), namun memiliki nama sandi yang lebih terhormat: Panca KOA (Lima Tugas). Nama ini merujuk pada lima sumpah suci yang dipegang oleh setiap anggotanya:
- Mencintai tanah air.
- Rela berkorban.
- Melenyapkan musuh.
- Mendukung penuh TNI.
- Memberikan informasi intelijen kepada TNI.
Pada akhir tahun 1948, di bawah kepemimpinan Supomo, pasukan Pancakoa menjadi momok yang menakutkan bagi Belanda dan para kolaboratornya. Dengan ciri khas pakaian hitam-hitam untuk menyamar di kegelapan malam, mereka beroperasi dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan sepuluh orang.
Aksi mereka meliputi:
- Penjarahan Gudang Senjata: Salah satu kesuksesan terbesar mereka adalah membobol gudang senjata Belanda di Ajibarang.
- Sabotase Ekonomi: Mengambil emas, uang, dan bahan pangan dari kantor pajak serta toko-toko yang berafiliasi dengan kepentingan Belanda.
- Intelijen Medis: Mencuri obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh para gerilyawan TNI di hutan.
Menariknya, meski dicap “pencuri”, seluruh hasil rampasan mereka diserahkan sepenuhnya kepada markas TNI untuk menyokong kebutuhan perang gerilya.
Panca KOA tidak sendirian. Di wilayah Pasir, TNI juga bekerja sama dengan GERDAK (Gerakan Rakyat di Daerah Pendudukan). Kedua kelompok ini berfungsi sebagai “tangan panjang” TNI. Mereka mampu mengacaukan stabilitas di jantung pertahanan Belanda tanpa memaksa pasukan reguler TNI masuk ke zona berbahaya yang terjaga ketat.
Seiring berjalannya waktu, kisah Pancakoa perlahan bergeser dari catatan sejarah militer menjadi memori kolektif yang samar di pedesaan Baturraden. Nama yang dulunya berarti “Lima Tugas Suci” kini sering dianggap sebagai bagian dari cerita rakyat atau permainan lama.
Namun, sejarah mencatat bahwa tanpa keberanian para “pasukan maling” ini, napas perjuangan gerilya di wilayah Banyumas mungkin akan padam lebih cepat akibat kekurangan logistik. Mereka adalah bukti bahwa dalam perang kemerdekaan, cara-cara yang dianggap “tidak lazim” menjadi senjata mematikan demi tegaknya kedaulatan bangsa.
sumber: Revolutionary Local Perspectives and Dynamics During the Indonesian Independence War, 1945-1949