Lima Tahun MAMAKU: Dari Ruang Pemberdayaan menjadi Destinasi Wisata dan Penggerak Ekonomi Kutawaru

CILACAP – Perahu perlahan bergerak meninggalkan tepian. Di seberang, hamparan mangrove dan perairan Segara Anakan menjadi pemandangan pembuka sebelum menuju Kampoeng Kepiting, Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah.

Bagi sebagian orang, perjalanan itu mungkin sekadar wisata. Namun bagi masyarakat Kutawaru, pemandangan ini menyimpan cerita panjang tentang pemberdayaan yang tumbuh menjadi penghidupan baru.

Cerita itu bernama Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU).

Lima tahun berjalan, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap kembali melakukan monitoring dan evaluasi (monev), Selasa (29/9/2026). Kegiatan tahunan ini untuk melihat kembali perjalanan program dan memastikan pendampingan berdampak nyata dan terus berkembang di masyarakat.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan monev menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program.

“Dari perjalanan ini, kami melihat perubahan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Yang sebelumnya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) maupun Anak Buah Kapal (ABK), kini memiliki alternatif kegiatan ekonomi yang justru menjadi kegiatan utama,” ujarnya.

Perubahan paling terasa ketika melihat Kampoeng Kepiting. Kawasan yang dahulu menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir kini menjelma menjadi wisata terpadu. Pengunjung tidak hanya datang dari Cilacap, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Alam menjadi daya tarik utamanya. Hamparan kawasan pesisir, suasana kampung, hingga sajian kuliner khas berbahan kepiting menjadi pengalaman yang ditawarkan masyarakat kepada para pengunjung.

Di balik pemandangan, ada proses panjang pemberdayaan. MAMAKU terus berkembang mengikuti kebutuhan dan potensi masyarakat. Budidaya kepiting cangkang lunak kemudian menjadi salah satu ikon Kampoeng Kepiting.

Pengembangan kawasan juga dilengkapi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (RUSUN TINGGI), sebuah inovasi yang menjadi bagian dari pengembangan budidaya kepiting.

Cerita MAMAKU tidak berhenti di kawasan wisata. Masyarakat mengembangkan pasar tradisional Mingguan Amarta sebagai ruang aktivitas ekonomi. Pasar yang digelar secara berkala tersebut kini mampu mencatat omzet ratusan juta rupiah.

Di sektor pertanian dan peternakan, terdapat Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kunang-kunang yang dikembangkan antara lain melalui peternakan burung puyuh.

Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Bank Sampah Abhipraya, yang mengajak masyarakat melihat sampah sebagai potensi ekonomi. Terlebih kelurahan ini terpisah perairan Segara Anakan sehingga menyulitkan akses menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di wilayah kota.

Bagi Rato, Local Hero MAMAKU, perjalanan ini menjadi proses pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengembangan kegiatan ekonomi.

“Harapan kami, dukungan dari Pertamina selama ini bisa menjadi pemicu bagi masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan MAMAKU agar tetap berkelanjutan,” tutur Rato.

Dari sisi pemerintahan kelurahan, program MAMAKU juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pemberdayaan masyarakat Kutawaru.

Lurah Kutawaru, Edy Harjanto, mengapresiasi perhatian dan dukungan Pertamina yang selama ini terus diberikan kepada masyarakat, terutama karena Kutawaru berada di sekitar wilayah operasional kilang.

“Pertamina sudah banyak memberikan kepedulian dalam pemberdayaan masyarakat Kutawaru. Ini menjadi bukti sinergi yang kuat. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Monev MAMAKU yang juga dihadiri perwakilan dinas terkait, Perhimpunan Hotel & Restauran Indonesia (PHRI) Cilacap, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cilacap, akademisi, serta pelaksana program MAMAKU, menjadi kesempatan untuk menengok kembali perjalanan sebuah kampung yang sedang membangun masa depannya sendiri.

Dari kepiting cangkang lunak hingga pasar mingguan, dari energi surya hingga bank sampah, dari peternakan puyuh hingga wisata pesisir. Semua tumbuh dalam satu cerita yang sama, masyarakat yang belajar untuk berdaya, lalu bergerak untuk mandiri.