CILACAP– Matahari menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat. Bagi kelompok pengelola Pusat Budidaya dan Edukasi Ikan Sidat (PUSAKA) di Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, sinar matahari kini memiliki arti lebih dari sekadar penerang siang hari.
Dari energi yang dipancarkan matahari, budidaya ikan sidat di perlahan menemukan jalan menuju kemandirian energi.
Di area tambak PUSAKA, energi surya dimanfaatkan untuk menggerakkan dua unit aerator yang menopang kebutuhan budidaya. Energi yang sama juga menghidupkan Learning Center, CCTV, hingga penerangan jalan menuju dan di sekitar kawasan tambak.
Semua itu dimungkinkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.500 Wp yang dikembangkan sebagai bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap.
Lebih dari menggantikan sumber Listrik, kini da harapan yang lebih besar, menjaga agar kegiatan ekonomi produktif terus berjalan, sekaligus mengurangi beban biaya operasional.

Dalam penggunaannya, PLTS mendukung operasional dua unit aerator pada dua area kolam tambak selama sekitar 12 jam setiap hari. Energi surya juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik Learning Center, CCTV, dan penerangan di sekitar lokasi.
Dari pemanfaatan tersebut, terdapat potensi penghematan biaya energi sekitar Rp1,3 juta setiap bulan. Jika dihitung dalam setahun, efisiensi tersebut dapat mencapai sekitar Rp15,6 juta.
Meski terlihat sederhana, penghematan ini menjadi ruang tambahan tambahan untuk pengembangan di tengah upaya membangun kemandirian kelompok dan menjaga keberlangsungan budidaya. Energi matahari pun akhirnya bertemu dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Cerita PUSAKA tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan semua yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dan berkembang.
Karena itu, PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap melakukan monitoring dan evaluasi Program TJSL PUSAKA di Learning Center PUSAKA, Senin (21/9/2026).
Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa Panikel, Koperasi Mina Sidat Bersatu, BUMDes Desa Panikel, kelompok PUSAKA, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan monitoring dan evaluasi ini untuk memastikan PUSAKA memiliki fondasi yang kuat untuk terus berjalan secara mandiri.
“Monev untuk melihat secara langsung perkembangan Program PUSAKA, termasuk capaian dan kendala yang dihadapi pengelola. Kami bersama stakeholder merumuskan langkah tindak lanjut agar program semakin mandiri dan berkelanjutan,” ujar Agustiawan.
Menurutnya, keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan menghadirkan sarana dan prasarana. Pengelolaan, keterlibatan masyarakat, kelembagaan lokal, hingga pemanfaatan teknologi harus berjalan bersama.
*Ketika Energi Menjadi Harapan*
Pengembangan PUSAKA menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, keberadaan Learning Center menjadi bagian penting dari program.
Pemanfaatan PLTS kemudian memberikan dimensi lain, energi bersih menjadi bagian dari upaya memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus fasilitas masyarakat. Konsep inilah yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan Desa Energi Berdikari di Desa Panikel.
Energi yang sebelumnya harus dibeli untuk menopang kegiatan, kini sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari cahaya matahari.
Bagi Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong program pemberdayaan yang tidak hanya menghasilkan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki keberlanjutan.
Di Panikel, cahaya matahari akhirnya memiliki cerita lain. Ia tidak hanya menerangi jalan dan bangunan, tetapi ikut menghidupkan aerator, menjaga aktivitas tambak, menekan biaya energi, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan usaha.