Empat Tahun Digodok, Melati Ayumi Akhirnya Rilis Album “Sembilan”

PURWOKERTO — Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sebuah karya menemukan bentuk terbaiknya. Bagi Melati Ayumi, rentang waktu sejak 2021 itu menjadi perjalanan panjang untuk mencari karakter suara, mengeksplorasi instrumen, membongkar kembali aransemen, hingga menemukan bentuk musikal yang paling sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.

Perjalanan tersebut akhirnya bermuara pada album “Sembilan”, yang resmi dirilis pada 30 Agustus 2026 di berbagai platform musik digital.

Album ini menghadirkan delapan lagu yang memadukan ensemble kontemporer etnik, musikalitas puisi, refleksi spiritual, serta kegelisahan terhadap kondisi alam.

Namun, “Sembilan” bukan sekadar kumpulan lagu. Album ini menjadi semacam dokumentasi perjalanan kreatif Ayumi selama bertahun-tahun.

Prosesnya bahkan bermula ketika Ayumi merilis sebuah single pada 2021. Ketika itu, pengerjaan album sebenarnya sudah berjalan. Single tersebut kemudian mendapatkan exposure yang cukup baik.

Namun, perjalanan album sempat terhenti.

Proses kreatif kembali bergerak setelah Ayumi bertemu dengan Andra Fahreza. Pertemuan tersebut kemudian berlanjut dengan keterlibatan Samundra dan Reno Rolander. Dari rangkaian pertemuan itu, arah penggarapan “Sembilan” berkembang, termasuk dengan pendekatan composer dalam menerjemahkan gagasan musikal.

Materi yang sebelumnya sudah dibuat pun tidak serta-merta dibuang.

Komposisinya tetap dipertahankan, tetapi hampir seluruh pendekatan aransemennya dirombak.

“Bukan mengganti komposisi lagunya, tapi kita ganti aransemennya. Kita ganti semua,” kata Melati Ayumi.

Proses panjang tersebut akhirnya rampung pada 12 Agustus 2026. Beberapa pekan kemudian, album “Sembilan” resmi tersedia di berbagai platform musik digital.

Mengapa Disebut “Sembilan”?

Ada hal menarik di balik judul album ini.

Meski bernama “Sembilan”, album tersebut ketika dirilis baru berisi delapan lagu. Satu lagu lainnya masih dipersiapkan dan direncanakan menyusul, kemungkinan masih pada tahun ini.

Bagi Ayumi, kondisi tersebut justru sejalan dengan filosofi angka sembilan yang menjadi dasar penamaan album.

Angka sembilan dimaknainya sebagai simbol perjalanan menuju puncak, sebuah tahapan yang mendekati kesempurnaan.

Angka satu dipandang sebagai permulaan, sementara nol menjadi simbol akhir. Sembilan berada pada posisi yang menggambarkan sebuah perjalanan menuju titik puncak.

Karena itu, delapan lagu yang telah dirilis belum dianggap sebagai perjalanan yang benar-benar selesai.

“Sembilan” justru menjadi sebuah perjalanan menuju pintu yang belum diketahui apa yang ada di baliknya.

“Sembilan itu filosofinya menuju ke puncak. Filosofinya itu sebenarnya hampir menuju kesempurnaan,” ujar Ayumi.

Pertanyaan berikutnya pun muncul: apa yang terjadi setelah angka sembilan?

Apakah perjalanan kembali ke awal? Apakah semuanya berhenti di titik puncak? Atau justru ada fase baru yang dimulai?

Bagi Ayumi, jawabannya memang tidak harus ditemukan.

“Hasilnya apa setelah 9? Gak ada yang tahu. Apakah bermula lagi dari awal? Atau sampai ke titik itu aja selesai? Masuk ke Nirwana? Itu gak ada yang tahu,” ujarnya.

Puisi yang Tidak Sekadar Dibacakan

Secara musikal, “Sembilan” membawa pendekatan Ensemble Kontemporer Etnik.

Gagasan lagu-lagunya banyak berangkat dari kontemplasi, intuisi, pengalaman yang telah dilalui, hingga imajinasi personal Ayumi.

Salah satu fondasi penting album ini adalah musikalitas puisi.

Namun, Ayumi tidak memilih pola musikalitas puisi yang sekadar menampilkan pembacaan puisi dengan musik sebagai latar.

Puisi justru diolah menjadi lagu secara utuh.

“Kalau biasanya musikalitas puisi kan hanya membacakan terus ada pengiringnya. Nah ini dinadakan dan diintonasikan jadi sebuah lagu yang utuh,” jelasnya.

Konsekuensinya, lagu-lagu dalam “Sembilan” tidak selalu mengikuti formula lagu populer yang lazim.

Pendengar mungkin tidak selalu menemukan refrain, bagian utama, atau coda yang mudah dikenali.

Strukturnya lebih bebas karena karya-karya tersebut berangkat dari puisi yang kemudian dilagukan dan disenandungkan.

Dengan pendekatan tersebut, Ayumi seolah mengajak pendengar untuk tidak hanya mendengarkan lagu sebagai produk musik, tetapi juga memasuki gagasan dan suasana yang dibangun di dalamnya.

Empat Tahun Mencari Karakter Suara

Lamanya proses penggarapan “Sembilan” tidak lepas dari eksplorasi yang dilakukan Ayumi.

Selama kurang lebih empat tahun, ia mencari karakter suara dan instrumen yang tepat untuk menerjemahkan gagasan musikalnya.

Berbagai bunyi dikumpulkan, dicoba, kemudian dipilih berdasarkan kebutuhan masing-masing lagu.

Tabla, ketipung, karinding, kendang hingga koor menjadi bagian dari eksplorasi tersebut.

Proses rekaman dilakukan di rumah. Sementara kebutuhan recording dan mastering mendapatkan dukungan dari studio Reno Rolander dan Samudra.

Andra Fahreza juga memiliki peran dalam proses produksi. Ia membantu menerjemahkan gagasan musikal Ayumi ke dalam notasi dan partitur.

Materi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam format digital oleh Samudra dan Reno.

Dengan demikian, album ini lahir dari kolaborasi berbagai pendekatan—mulai dari gagasan personal, eksplorasi instrumen, penataan aransemen, hingga penerjemahan karya ke dalam format digital.

Identitas Visual Dibangun Sendiri

Tidak hanya menggarap musik, Ayumi juga terlibat langsung dalam membangun identitas visual “Sembilan”.

Artwork atau sampul album dibuat sendiri. Konsep video pun dirancang sebagai bagian dari gagasan besar yang sama.

Visual tersebut berkaitan dengan metafora perjalanan menuju “pintu ke sembilan”.

Pintu itu menjadi simbol titik puncak sekaligus batas menuju sesuatu yang belum diketahui.

Di sinilah “Sembilan” tidak menawarkan jawaban tunggal.

Album ini justru menyisakan ruang bagi pendengar untuk menafsirkan sendiri apa yang terjadi setelah perjalanan mencapai puncaknya.

Apakah seseorang harus kembali ke awal?

Apakah perjalanan berakhir?

Atau justru pintu tersebut membawa seseorang memasuki fase kehidupan dan perjalanan kreatif yang sama sekali baru?

Pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan terbuka.

“Sembilan” Bukan Akhir Perjalanan

Menariknya, perjalanan kreatif Ayumi juga belum berhenti setelah album ini dirilis.

Sejumlah materi yang sebelumnya telah dibuat tetapi belum masuk ke dalam “Sembilan” masih berpotensi dikembangkan menjadi karya berikutnya.

Artinya, album ini sekaligus menjadi penutup dari sebuah proses panjang sekaligus pembuka bagi perjalanan baru.

Delapan lagu yang kini telah tersedia dapat dipandang sebagai bagian perjalanan menuju angka sembilan.

Satu lagu yang masih dipersiapkan bahkan menjadi simbol bahwa perjalanan tersebut belum sepenuhnya selesai.

Pada akhirnya, “Sembilan” bukan hanya tentang angka.

Ia merupakan gagasan tentang perjalanan, pencarian, proses kreatif, puncak, dan pertanyaan tentang apa yang datang setelah sebuah pencapaian.

Setelah empat tahun digodok, perjalanan itu akhirnya bisa didengarkan publik.

Album “Sembilan” telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak 30 Agustus 2026.