PURWOKERTO — Data ekonomi tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk angka. Di balik setiap persentase pertumbuhan ekonomi, inflasi, APBD maupun hasil survei, terdapat cerita tentang kondisi masyarakat yang perlu diterjemahkan secara akurat dan komunikatif.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Aswin Gantina, dalam kegiatan Capacity Building Media Tahun 2026 dengan tema “Teknik Menyusun Konten Berita Ekonomi yang Akurat dan Komunikatif.”, Selasa 22 September 2026.
Menurut Aswin, kemampuan membaca dan mengolah data menjadi semakin penting bagi wartawan karena informasi ekonomi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan angka pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Ketika sebuah daerah mencatat pertumbuhan ekonomi, misalnya 5,2 persen, wartawan tidak cukup berhenti pada angka tersebut.
“Data itu harus diceritakan. Apa arti pertumbuhan ekonomi itu? Apa manfaatnya bagi rakyat dan apa manfaatnya bagi daerah?” kata Aswin.
Menurut dia, tugas media bukan hanya menyampaikan angka, tetapi menjelaskan makna di balik angka tersebut sehingga masyarakat dapat memahami dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Data Harus Akurat, Bukan Sekadar Viral
Aswin juga mengingatkan pentingnya proses verifikasi sebelum sebuah data dijadikan berita.
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, data yang keliru dapat dengan mudah menyebar dan berpotensi menyesatkan masyarakat.
Ia mencontohkan kasus informasi harga beras yang sempat beredar di media sosial dengan angka yang tidak masuk akal. Kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi jurnalis untuk selalu mengecek sumber dan kewajaran data sebelum mempublikasikannya.
“Harusnya secara sumber atau ke sumber datanya diproses, sehingga bisa didapatkan kebenaran datanya,” ujarnya.
Menurut Aswin, akurasi menjadi semakin penting ketika berita menyangkut ekonomi karena kesalahan informasi dapat menimbulkan persepsi yang keliru dan bahkan merugikan masyarakat.
Ia juga menyinggung bahwa data dari lembaga resmi sekalipun tetap dapat menimbulkan perdebatan ketika tidak sesuai dengan persepsi atau kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Karena itu, menurutnya, wartawan perlu membangun kebiasaan untuk tidak sekadar menerima angka, tetapi memahami metodologi, sumber, konteks, serta realitas di balik data tersebut.
Angka Ekonomi Harus Diterjemahkan Menjadi Cerita
Aswin menilai tantangan berikutnya setelah mendapatkan data yang akurat adalah bagaimana mengomunikasikannya kepada masyarakat.
Data ekonomi memiliki banyak istilah teknis yang terkadang sulit dipahami pembaca. Karena itu, wartawan dituntut mampu menerjemahkan bahasa teknis menjadi bahasa publik tanpa menghilangkan substansi.
Ia mencontohkan sejumlah kebijakan moneter yang dalam bahasa teknis terdengar rumit. Padahal, substansinya dapat dijelaskan menggunakan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
“Bagaimana data-data informasi itu dibuat jadi cerita, menjadi cerita yang komunikatif dan dimengerti oleh masyarakat,” katanya.
Menurut Aswin, kemampuan tersebut penting agar kebijakan dan informasi ekonomi yang disampaikan Bank Indonesia tidak berhenti menjadi laporan teknis, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dengan teman-teman media ini, kita bisa menerjemahkan agar lebih komunikatif kepada masyarakat melalui tulisan-tulisannya,” ujarnya.
APBD Juga Perlu Dibaca sebagai Cerita Kesejahteraan
Aswin juga mendorong wartawan di daerah untuk lebih kritis membaca kebijakan fiskal, termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurut dia, APBD bukan sekadar kumpulan angka pendapatan dan belanja pemerintah daerah. Di dalamnya terdapat pilihan kebijakan yang menentukan bagaimana anggaran digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Karena itu, wartawan dapat menguji apakah alokasi anggaran benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk untuk pembangunan infrastruktur, pelayanan publik dan program kesejahteraan.
“APBD juga mungkin teman-teman harus belajar. Kalau dikritisi, benar enggak ini dipakai untuk kesejahteraan rakyat?” katanya.
Ia menilai kemampuan membaca APBD akan membantu media menghasilkan pemberitaan ekonomi daerah yang lebih substantif. Angka anggaran dapat dihubungkan dengan program konkret dan dampaknya terhadap masyarakat.
Salah satu contoh yang disinggung adalah keberlanjutan layanan transportasi publik Trans Banyumas, yang dalam perkembangannya berkaitan dengan pembiayaan pemerintah daerah.
Bagi Aswin, persoalan seperti itu dapat menjadi bahan pemberitaan ekonomi yang menarik karena menyangkut bagaimana kebijakan anggaran diterjemahkan menjadi layanan publik yang dirasakan langsung masyarakat.
BI Buka Akses Data Ekonomi bagi Media
Dalam kesempatan tersebut, Aswin juga mengingatkan bahwa Bank Indonesia memiliki berbagai sumber data yang dapat dimanfaatkan wartawan sebagai bahan pemberitaan.
Selain kanal media sosial, informasi ekonomi dan data resmi juga tersedia melalui laman resmi Bank Indonesia.
Data tersebut antara lain mencakup statistik ekonomi dan keuangan daerah, hasil survei konsumen, survei kegiatan dunia usaha serta berbagai informasi ekonomi lainnya.
“Di website BI juga banyak data dan informasi yang kalau teman-teman ulik, bisa jadi berita,” katanya.
Menurut Aswin, data yang tersedia secara berkala tersebut dapat menjadi sumber untuk mengembangkan berita ekonomi yang lebih kontekstual dan dekat dengan kondisi masyarakat di daerah.
Dengan demikian, media tidak hanya menunggu konferensi pers atau pernyataan pejabat, tetapi dapat menggali sendiri data yang tersedia untuk menemukan isu dan cerita ekonomi yang relevan.
Tantangan Ekonomi Banyumas Raya
Dalam kegiatan tersebut, Aswin juga menyinggung perkembangan ekonomi Banyumas Raya, termasuk tantangan inflasi yang perlu terus diperhatikan.
Kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian dan pasokan sejumlah komoditas.
Pada sisi lain, permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas masih cukup tinggi.
“Permintaan masyarakat juga masih cukup tinggi, seperti ayam. Terus juga beberapa hasil pertanian karena kekeringan ada yang menurun,” ujarnya.
Kondisi tersebut perlu dicermati karena perubahan pasokan maupun permintaan dapat memengaruhi perkembangan harga dan inflasi.
Aswin berharap tekanan tersebut tetap dapat dikelola sehingga stabilitas harga di wilayah Banyumas Raya tetap terjaga.
Ia juga berharap fenomena El Nino tidak berlangsung lebih panjang sehingga kondisi pertanian dan ketersediaan air dapat kembali membaik.
“Mudah-mudahan masih terkelola inflasinya ke depan dan Insya Allah El Nino ini tidak berjalan lebih panjang lagi,” katanya.
Media Berperan Memperkuat Literasi Ekonomi
Aswin menegaskan, Bank Indonesia membutuhkan kemitraan dengan media untuk memperkuat literasi masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan.
Menurutnya, media memiliki posisi strategis karena mampu menjangkau masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian.
Karena itu, kegiatan Capacity Building Media 2026 tidak hanya dimaksudkan sebagai forum peningkatan kapasitas wartawan, tetapi juga sebagai ruang berbagi pengalaman antara Bank Indonesia dan media.
Kegiatan tersebut menghadirkan materi mengenai teknik menyusun berita ekonomi yang akurat dan komunikatif, termasuk berbagi pengalaman dari jurnalis media nasional.
Aswin berharap kegiatan tersebut dapat membantu wartawan semakin mampu membaca data, menguji akurasi informasi, menemukan konteks, serta mengubah angka menjadi cerita yang bermanfaat.
“Bank Indonesia bermitra dengan teman-teman semua. Kita ingin literasi masyarakat bisa lebih baik lagi di daerah,” ujarnya.
Dengan kemampuan tersebut, pemberitaan ekonomi diharapkan tidak berhenti pada pertanyaan “berapa angkanya”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih penting: “apa arti angka itu bagi masyarakat?”
Pada titik itulah data ekonomi menjadi cerita yang hidup—cerita tentang harga, daya beli, pekerjaan, usaha, anggaran pemerintah, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.