BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Pemantauan kualitas air bersih di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, kini mulai memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem yang dikembangkan tim pengabdian kepada masyarakat (Pengmas) Universitas Telkom Purwokerto tersebut memungkinkan kondisi air dipantau secara real-time dengan dukungan energi dari panel surya.
Inovasi ini menyasar kelompok pengelola sumber air bersih dan masyarakat Desa Kemutug Lor yang selama ini bergantung pada mata air desa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sistem dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air yang sebelumnya belum dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Ketua tim Pengmas Universitas Telkom Purwokerto, Fauza Khair, ST., M.Eng, mengatakan teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, terutama keberadaan sumber mata air yang tidak selalu berada dekat dengan jaringan listrik konvensional.
“Kami ingin menghadirkan teknologi yang bukan hanya canggih, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, sistem monitoring ini dirancang mandiri menggunakan energi surya sehingga dapat bekerja di lokasi sumber air tanpa bergantung sepenuhnya pada listrik PLN,” kata Fauza.
Sistem tersebut menggunakan sejumlah sensor untuk membaca parameter kualitas air, meliputi pH, tingkat kekeruhan (turbidity), suhu, dan Total Dissolved Solids (TDS). Data yang diperoleh sensor diproses melalui mikrokontroler ESP32 dan dikirimkan melalui jaringan internet menuju dashboard pemantauan berbasis web maupun aplikasi sehingga dapat dipantau dari jarak jauh.
Keunggulan lain sistem ini adalah adanya early warning system atau mekanisme peringatan dini. Ketika parameter kualitas air menunjukkan kondisi di luar ambang batas yang telah ditentukan, sistem dapat memberikan notifikasi kepada pengelola. Dengan demikian, pengelola air dapat segera melakukan pengecekan maupun tindakan korektif, seperti membersihkan bak penampungan atau menghentikan distribusi sementara.
Pemanfaatan panel surya menjadi bagian penting dari inovasi tersebut. Energi matahari dikonversi menjadi listrik dan disimpan dalam baterai melalui solar charge controller untuk kemudian memasok kebutuhan ESP32, sensor, dan perangkat komunikasi. Konsep ini memungkinkan perangkat bekerja secara mandiri sekaligus menekan ketergantungan terhadap sumber listrik konvensional.
Program Pengmas tersebut diawali dengan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Desa Kemutug Lor, kelompok pengelola air, dan masyarakat pada Selasa, 3 Maret 2026. Pertemuan itu digunakan untuk memetakan kebutuhan, menentukan lokasi implementasi, serta menyamakan persepsi mengenai pengelolaan dan keberlanjutan sistem monitoring kualitas air.
Tahap berikutnya dilakukan pada Kamis, 25 Juni 2026, melalui perancangan sistem dan penyerahan perangkat kepada Desa Kemutug Lor. Perangkat yang diserahkan mencakup sensor kualitas air, mikrokontroler, perangkat komunikasi IoT, panel surya, sistem catu daya, serta sejumlah perangkat pendukung lainnya. Implementasi tersebut sekaligus menandai dimulainya pemanfaatan sistem monitoring secara langsung di lingkungan desa.
Menurut tim Pengmas, teknologi ini tidak berhenti pada pemasangan perangkat. Pengelola air dan perangkat desa juga mendapatkan pendampingan untuk membaca dashboard, memahami data sensor, melakukan pemeliharaan dasar perangkat, merawat panel surya, serta merespons ketika sistem mengeluarkan peringatan. Pendekatan tersebut diharapkan membangun kapasitas teknis masyarakat sehingga teknologi dapat terus dimanfaatkan setelah program pengabdian selesai.
Tim Pengmas Universitas Telkom Purwokerto yang terlibat dalam program ini terdiri atas Fauza Khair, ST., M.Eng sebagai ketua, bersama anggota Rizal Meifan, S.Si., M.Eng dan Yulian Zetta Maulana, ST., M.Eng. Program tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima teknologi, tetapi sebagai bagian dari pengelolaannya, termasuk dalam instalasi, pemanfaatan data, pemeliharaan, dan evaluasi sistem.
Melalui penerapan teknologi tersebut, Desa Kemutug Lor diarahkan menuju model pengelolaan sumber air yang lebih modern, berbasis data, hemat energi, dan berkelanjutan. Data historis kualitas air juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah desa dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan sumber daya air. Dalam jangka lebih panjang, model serupa dinilai berpotensi direplikasi di desa lain yang memiliki karakteristik sumber air dan kebutuhan pemantauan serupa.