Irwan Hidayat: Dari Jamu Berbasis Pengalaman Menuju Industri Herbal Berbasis Ilmiah

PURWOKERTO — Perjalanan Sido Muncul membangun industri jamu modern tidak berlangsung dalam waktu singkat. Di balik berkembangnya produk herbal seperti Tolak Angin, terdapat perjalanan panjang untuk mengubah cara pandang terhadap jamu, dari produk yang mengandalkan pengalaman turun-temurun menjadi produk yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Hal itu disampaikan CEO Sido Muncul Irwan Hidayat saat menceritakan perjalanan perusahaan yang dipimpinnya, pada kesempatan Seminar Bisnis bertema Tetap Tegar di Masa Sukar, Jumat 28 Agustus 2026 di Purwokerto.

Menurut dia, titik penting perubahan tersebut terjadi sekitar 1985. Pada masa itu, Irwan menyadari bahwa industri jamu tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan pengalaman dan tradisi. Ia kemudian memiliki gagasan untuk membangun pabrik sekaligus melakukan penelitian berbasis ilmiah.

“Kalau jamu itu berbasis pengalaman. Coba minum jamu, aman. Pokoknya wasitnya pengalaman,” kata Irwan.

Namun, keinginan tersebut tidak mudah diwujudkan. Pabrik yang ada saat itu dinilai sudah terlalu kuno dan belum mampu melakukan standardisasi produk secara baik.

“Saya mau membuat pabrik, membuat penelitian yang berbasis ilmiah. Tapi pabriknya tidak bisa memelihara karena pabriknya kuno, tidak bisa melakukan standardisasi,” ujarnya.

Meski menghadapi keterbatasan, Irwan tidak menyerah. Ia menyadari bahwa membangun industri dengan standar baru membutuhkan modal. Karena itu, ia memilih satu prinsip sederhana: produk harus benar-benar berkualitas.

“Saya harus punya uang. Pastinya produk harus baik. Untuk itu yang saya katakan, produknya harus bagus,” katanya.

Menurut Irwan, kualitas produk menjadi fondasi utama sebelum berbicara mengenai promosi dan pemasaran.

Bagi Irwan, Produk yang berkualitas, akan menemukan konsumennya.

“Saya belajar bahwa pokoknya produknya harus baik,” ujarnya.

Dua Belas Tahun Membangun Fondasi

Perjalanan tersebut berlangsung bertahun-tahun. Sekitar 1997, setelah melalui proses panjang, penjualan produk mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik.

Irwan menilai pertumbuhan tersebut bukan semata-mata hasil promosi. Ia justru menekankan pentingnya kualitas produk sebagai fondasi utama perusahaan.

“Politik quality. Sudah jangan ngomong teori-teori promotion,” katanya.

Pada periode tersebut, pembangunan pabrik juga mulai diarahkan untuk memenuhi standar produksi yang lebih baik. Irwan bersama saudara-saudaranya berpikir bahwa fasilitas produksi harus diperbesar dan dibangun dengan standar yang lebih tinggi.

“Ketika saya bangun pabrik itu, saya sama adik-adik saya berpikir, ini pabriknya harus diperpanjang. Pokoknya standarnya harus bagus,” tuturnya.

Upaya tersebut kemudian berkembang hingga perusahaan mampu menerapkan standardisasi produksi secara lebih sistematis sekitar 2002.

Bagi Irwan, standardisasi menjadi titik penting karena produk herbal tidak cukup hanya diklaim aman berdasarkan pengalaman. Produk harus diuji dan dibuktikan melalui penelitian.

Dari Pengalaman ke Bukti Ilmiah

Langkah berikutnya adalah melakukan penelitian klinis. Menurut Irwan, penelitian pertama harus menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah produk tersebut aman atau justru memberikan dampak buruk bagi tubuh.

“Uji klinik yang pertama itu adalah produk ini merusak atau tidak,” katanya.

Salah satu produk yang kemudian diteliti adalah Tolak Angin. Irwan menceritakan bahwa perusahaan bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk membuktikan manfaat produk tersebut secara ilmiah.

Salah satunya dilakukan bersama sejumlah Universitas. Penelitian itu diarahkan untuk melihat apakah Tolak Angin memiliki pengaruh terhadap daya tahan tubuh.

Persoalannya, istilah “masuk angin” sendiri tidak mudah diterjemahkan ke dalam indikator medis. Karena itu, penelitian harus mencari parameter ilmiah yang dapat digunakan untuk mengukur efek produk.

“Masuk angin itu indikatornya apa? Kami tanya, ada tidak indikator peningkatan?” ujar Irwan.

Dari penelitian tersebut, ia menyebut terdapat temuan mengenai peningkatan indikator yang berkaitan dengan daya tahan tubuh. Penelitian itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Sido Muncul dalam membawa produk jamu masuk ke ranah penelitian ilmiah.

Bagi Irwan, pembuktian ilmiah kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal.

Harus Menang di Akal dan Hati

Irwan mengatakan, keberhasilan sebuah produk tidak cukup hanya dengan memenangkan logika konsumen. Produk juga harus mampu memenangkan hati.

“Kalau kita mau membuat sebuah produk memenangkan sebuah pertandingan, itu harus memenangkan akal dan budi. Tidak bisa memenangkan akal saja,” ujarnya.

Menurut dia, konsumen bukan sekadar membutuhkan produk yang memiliki manfaat. Mereka juga harus percaya dan merasa dekat dengan produk tersebut.

“Kalau mau wonderful, beautiful, oke. Tapi kalau mau wonderful harus memenangkan hati,” katanya.

Pemikiran tersebut kemudian membuat Irwan melihat bahwa industri jamu harus mulai membangun hubungan yang lebih kuat dengan dunia kedokteran.

Ia melihat industri farmasi dapat berkembang pesat karena memiliki hubungan erat dengan dokter. Sementara industri jamu pada masa itu belum memiliki posisi yang sama.

“Farmasi itu bisa hebat karena punya partnernya dokter. Coba industri jamu tidak ada dokter, mana bisa berkembang?” katanya.

Dari situlah muncul keinginan Irwan untuk membawa produk herbal lebih dekat dengan kalangan akademisi dan kedokteran.

Membuka Pintu Dunia Kedokteran

Upaya tersebut mulai dilakukan lebih serius sekitar 2012. Irwan mengaku mendapat dorongan setelah bertemu seorang dokter yang kemudian memberikan apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan Sido Muncul.

Pertemuan itu menjadi momentum penting. Irwan kemudian semakin berani mendatangi lingkungan fakultas kedokteran dan memperkenalkan proses produksi serta penelitian yang dilakukan perusahaan.

Ia tidak datang hanya untuk menjual produk. Ada dua hal yang ingin dibawanya.

“Saya datang ini untuk memperkenalkan bagaimana kami memproduksi. Yang kedua, saya ingin supaya profesor dan doktor mau melakukan penelitian,” katanya.

Harapannya, penelitian yang dilakukan bersama kalangan akademisi dan kedokteran dapat memperkuat bukti ilmiah mengenai manfaat obat herbal.

“Siapa tahu kalau para dokter ini masuk, mudah-mudahan obat herbal bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Irwan menyebut Sido Muncul kemudian menjadi salah satu perusahaan jamu yang mendapat kesempatan masuk ke lingkungan fakultas kedokteran untuk memperkenalkan proses produksi dan mendorong penelitian.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya panjang untuk mengubah citra jamu. Jamu tidak lagi semata-mata dipandang sebagai produk tradisional yang khasiatnya hanya berdasarkan cerita dan pengalaman, tetapi juga dapat dikaji melalui metode ilmiah.

“Saya Cuma Tukang Jamu”

Di hadapan kalangan akademisi dan dokter, Irwan justru memilih memperkenalkan dirinya dengan cara yang sederhana.

“Saya ini cuma ahli tiga hal. Yang pertama, saya cuma tukang jamu yang bisa membuat pegel linu, masuk angin, sama panas dalam,” katanya.

Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan.

Bagi Irwan, kerendahan hati justru menjadi cara untuk membuka komunikasi dengan para dokter dan akademisi. Ia tidak datang dengan klaim bahwa jamu mampu menyembuhkan semua penyakit.

Ia menyadari bahwa membuat produk herbal yang dapat dipercaya membutuhkan proses panjang, penelitian, standardisasi, serta keberanian untuk diuji secara ilmiah.

Perjalanan Sido Muncul, menurut Irwan, pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang bagaimana sebuah perusahaan menjual jamu. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan upaya mengubah paradigma industri herbal Indonesia.

Dari produk yang semula bertumpu pada pengalaman, jamu didorong untuk memasuki dunia standardisasi, penelitian, uji klinis, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi serta kalangan kedokteran.

Bagi Irwan, prinsipnya tetap sederhana: produk harus berkualitas, manfaatnya harus dapat dipertanggungjawabkan, dan kepercayaan konsumen harus dibangun melalui akal sekaligus hati.

“Pokoknya produknya harus baik,” kata Irwan.