Ketupat ala Advokat Djoko Susanto, Merawat Tradisi Filosofi Laku Papat

PURWOKERTO — Aroma khas janur yang direbus perlahan menguar dari dapur sederhana itu. Di tengah kesibukannya sebagai advokat, Djoko Susanto justru menemukan ruang hening dalam sebuah tradisi lama: merangkai ketupat.

Ia dikenal luas sebagai pengacara. Namun bagi sebagian orang terdekatnya, Djoko juga adalah penjaga warisan keluarga—seorang perangkai janur yang tekun, yang setia merawat apa yang ia sebut sebagai “kupat Sinta”.

Di tangannya, janur muda tak sekadar dianyam menjadi wadah beras. Ia menjelma simbol kehidupan.

“Ketupat itu bukan hanya makanan. Di dalamnya ada ajaran hidup,” ujarnya pelan, seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan merenung.

Bagi Djoko, Lebaran bukan hanya perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah ruang refleksi yang terangkum dalam filosofi Jawa yang disebut “laku papat”. Empat laku ini hidup dalam setiap anyaman ketupat yang ia buat.

Leburan, katanya, adalah tentang melebur kesalahan—saling memaafkan dengan tulus. Luberan bermakna melimpahnya silaturahmi, mempererat hubungan antarsesama. Leberan menjadi simbol berbagi rezeki, sementara laburan adalah proses kembali pada kesucian, menjadi pribadi yang bersih seperti semula.

Empat makna itu tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani. Setiap helai janur yang ia lipat adalah pengingat, setiap simpul yang ia kencangkan adalah tekad.

Tradisi ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba dalam hidupnya. Sejak kecil, Djoko telah akrab dengan tangan-tangan yang mengajarinya menganyam janur. Ia tumbuh bersama ritme dapur, menyaksikan bagaimana beras dipilih, dicuci, lalu dimasukkan ke dalam anyaman hingga akhirnya menjadi ketupat yang utuh.

Kini, ia menjadi satu-satunya di keluarganya yang masih menjaga tradisi itu.

“Amanah keluarga. Kalau bukan saya, ya bisa hilang,” katanya, dengan nada yang lebih dalam.

Di tengah arus modernisasi yang serba praktis, pilihan Djoko untuk tetap merangkai ketupat secara manual terasa seperti sikap melawan lupa. Ia tidak hanya menjaga bentuk, tetapi juga makna.

Menariknya, perhatian Djoko tidak berhenti pada filosofi. Ia juga telaten dalam hal teknis. Ia memilih daun jati sebagai bagian dari proses perebusan—bukan tanpa alasan. Selain memberi warna alami yang khas, daun jati juga membantu ketupat lebih tahan lama dan padat.

Dalam hitungannya, satu kilogram beras bisa menjadi sekitar 20 ketupat ukuran sedang. Namun, menurutnya, kualitas tidak ditentukan dari jumlah, melainkan kesabaran.

Ketupat harus direbus selama kurang lebih empat jam dengan api sedang hingga mencapai kondisi “tanek”—matang sempurna dalam istilah Jawa. Setelah itu, proses penirisan menjadi kunci agar ketupat tidak cepat basi.

“Kalau ditiriskan dengan benar, bisa tahan sampai empat hari tanpa bahan pengawet,” ujarnya.

Di dapur itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tidak ada yang instan. Semua melalui proses: dari memilih bahan, menganyam, hingga menunggu matang.

Di sanalah, mungkin, letak makna yang paling dalam.

Di tangan Djoko “Kumis” Susanto, ketupat bukan sekadar pelengkap hidangan Lebaran. Ia adalah narasi tentang ketekunan, tentang ingatan, dan tentang nilai-nilai yang diwariskan secara sunyi.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kisahnya menjadi pengingat sederhana: bahwa tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan megah. Kadang, ia bersemayam dalam anyaman janur—rapuh, lentur, namun menyimpan makna yang tak lekang oleh waktu.