Gunung Slamet (atau sering juga disebut Gunung Tegal pada masa lalu), yang menjulang megah sebagai gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru, menyimpan kisah sejarah yang panjang. Jauh sebelum pendakian gunung menjadi kegiatan rekreasi populer, para penjelajah dan ilmuwan era kolonial telah merintis jalur menembus lebatnya hutan tropis untuk mencapai puncaknya. Salah satu catatan paling komprehensif mengenai hal ini ditinggalkan oleh Franz Wilhelm Junghuhn, seorang naturalis yang menjelajahi kawasan ini pada paruh pertama abad ke-19.
Lanskap Lereng Selatan: Dataran Subur Banyumas hingga Ajibarang
Sebelum membahas jalur pendakiannya, penting untuk melihat lanskap geografi di sekitar lereng selatan gunung ini, yang membentang dari wilayah Purbalingga (disebut Purwolinggo dalam catatan sejarah), Purwokerto (Purwokerta), hingga Ajibarang. Berbeda dengan lereng utaranya yang terjal, kaki Gunung Slamet di sisi selatan menurun dengan sangat landai membentuk teras-teras luas yang didominasi oleh area persawahan yang subur hingga mencapai lembah Sungai Serayu.
Kondisi geografis wilayah ini sangat dipengaruhi oleh aliran lava purba yang menyebar hingga menutupi formasi perbukitan kuno di sekitarnya. Permukaan lava beku ini membentuk dataran yang cukup rata, yang membentang dari arah timur laut di Purbalingga melengkung hingga ke Ajibarang di barat daya. Hebatnya, pada pertengahan abad ke-19, dataran lava ini sudah bisa dilalui oleh kereta kuda dengan mulus tanpa terputus.
Di wilayah barat daya Ajibarang, dataran vulkanik ini berbatasan dengan perbukitan sedimen (neptunis). Sungai-sungai di kawasan ini, seperti Kali Tajem, mengukir lembah-lembah curam dengan tebing dinding lava yang tingginya mencapai sekitar 60 meter (200 kaki). Di lokasi inilah terdapat sebuah celah bumi yang mencekam bernama “Batu Bela” (Batu Belah). Pada masa itu, Batu Bela memiliki reputasi kelam karena diyakini pernah digunakan oleh Sultan Yogyakarta sebagai tempat pembuangan orang-orang yang kehilangan perkenan keraton atau para pelanggar politik, membiarkan mereka menghadapi kematian yang mengerikan di dasar celah tersebut.
Ekspedisi Perdana: Menembus Jalur Utara via Moga (1838)
Pendakian ilmiah pertama yang didokumentasikan oleh Junghuhn ke puncak kawah Slamet berlangsung pada bulan Agustus 1838. Dalam ekspedisi ini, ia ditemani oleh Dr. A. Fritze, serta dua pria dari Tegal, yaitu Dr. Holle dan Tuan Borst.
Perjalanan mereka dimulai dari desa Moga di sisi kaki utara gunung, yang berada di ketinggian sekitar 305 mdpl (1.000 kaki). Pada tahap awal, rombongan masih bisa menunggang kuda menyusuri lereng yang kaya akan rumpun bambu. Kuda-kuda tersebut baru ditinggalkan di sebuah titik peristirahatan pada ketinggian sekitar 1.219 mdpl (4.000 kaki), tempat gubuk-gubuk bermalam telah dipersiapkan.
Dari titik itu, pendakian dilanjutkan dengan memanjat sisa tanjakan secara berjalan kaki hingga mencapai puncak pada pukul 1 siang. Kelancaran ekspedisi tahun 1838 ini sangat terbantu oleh Residen Tegal saat itu, D. A. Varkevisser, yang memfasilitasi pembukaan jalur hutan; tanpanya, rombongan pasti membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk menembus belantara liar.
Ekspedisi Kedua: Jejak Badak di Jalur Pratin (1847)
Sembilan tahun berselang, Junghuhn kembali menantang Gunung Slamet dengan instrumen pemetaan dan meteorologi yang jauh lebih lengkap. Pada 19 Juni 1847, ia memulai ekspedisi kedua bersama para pemandu lokal. Rombongan berangkat pukul 7 pagi dari dataran tinggi desa Pratin, di sisi timur menuju utara gunung, pada ketinggian sekitar 1.219 mdpl (4.000 kaki).
Jalur Pratin ini menawarkan pesona botani dan tantangan yang luar biasa:
- Rombongan menembus hutan purba yang rimbun dan gelap, dipenuhi pepohonan raksasa yang dihiasi tanaman merambat, anggrek, pakis Cyathea, dan lumut gantung (Aërobryum speciosum).
- Sepanjang pendakian, mereka melintasi beberapa celah sungai berbatu lava berpori yang kering, seperti celah sedalam 7,6 meter (25 kaki) di Kali Bajah dan Kali Redjoso.
- Keberuntungan memihak ekspedisi ini. Sejak pukul 9 pagi, rombongan sangat terbantu oleh adanya jalan setapak terobosan satwa badak (Rhinoceros). Kotoran dan jejak kaki satwa bercula tersebut banyak ditemukan di sepanjang jalur ini.
- Memasuki zona ketinggian antara 2.133 hingga 2.438 mdpl (7.000–8.000 kaki), pepohonan mulai menipis berganti dengan padang rumput dan beragam flora pegunungan alpine yang indah berbau harum. Padang rumput aromatik inilah yang menjadi sumber makanan favorit kawanan badak di Gunung Slamet pada masa itu.
- Setelah 5,5 jam pendakian aktif, Junghuhn akhirnya tiba di titik tertinggi puncak di hamparan pasir vulkanik pada pukul 1:30 siang. Ia bermalam mendirikan gubuk di hamparan pasir dekat bibir kawah yang bergemuruh di ketinggian lebih dari 3.048 mdpl (10.000 kaki).
Jalur Lintas Penghubung Karesidenan
Selain mendokumentasikan rute menantang ke puncak, catatan Junghuhn juga merekam rute-rute lintas alam (pass) komersial kuno yang dimanfaatkan penduduk masa itu untuk melintasi pegunungan. Jalur-jalur ini tidak naik hingga ke puncak, melainkan membelah celah antar perbukitan:
- Terdapat rute melintasi celah bukit yang cukup rendah di dekat desa Petuguran (sisi barat), yang menghubungkan Karesidenan Banyumas ke arah utara menuju Tegal.
- Terdapat pula jalur penghubung penting lainnya antara Banyumas dan Tegal yang membentang melintasi dataran tinggi desa Pratin (di timur gunung).
Namun, ada satu catatan bernuansa gelap yang didokumentasikan Junghuhn di dekat Ajibarang, yakni sebuah celah bumi atau gua sempit yang dikenal dengan nama “Batu Bela” (Batu Belah). Terletak di tepi kiri Sungai Tajum(K. Tajum), celah sedalam lembah ini memotong lapisan lava yang tebal. Menurut cerita yang dihimpun Junghuhn kala itu, Batu Bela memiliki reputasi yang menakutkan karena dulunya digunakan oleh Sultan Yogyakarta sebagai tempat pembuangan untuk menghukum mati orang-orang yang tidak disukai atau para pelaku kejahatan politik.
Catatan Erupsi Bersejarah di Era Hindia Belanda
Sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Pulau Jawa, Gunung Slamet memiliki riwayat gejolak vulkanik yang terus berlanjut. Dalam laporannya, Junghuhn merangkum beberapa catatan letusan penting yang terjadi pada akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19:
- Agustus 1772: Gunung Slamet mengalami letusan yang sangat dahsyat. Peristiwa ini terjadi pada malam tanggal 11 hingga 12 Agustus, yang secara kebetulan meletus bersamaan dengan letusan Gunung Ciremai dan Gunung Papandayan.
- Oktober 1825: Gunung ini kembali menunjukkan aktivitasnya dengan memuntahkan abu vulkanik dan tiang asap yang membubung tinggi.
- September 1835: Terjadi letusan yang memuntahkan tiang uap atau asap tebal dengan hebat selama dua hari berturut-turut. Letusan ini juga menyemburkan material abu vulkanik yang berjatuhan hingga menyelimuti wilayah Tegal.
- Desember 1849: Laporan dari Javasche Courant mencatat bahwa pada tanggal 1 Desember, antara pukul 4 hingga 6 sore, terjadi fenomena hujan abu di Karesidenan Tegal. Hujan abu ini kemungkinan besar dipicu oleh fase erupsi dari Gunung Slamet.
Kesaksian Penduduk Eropa di Tegal Informasi mengenai letusan tahun 1825 dan 1835 tersebut sebagian besar diperoleh Junghuhn dari penuturan lisan para penduduk Eropa yang menetap di Tegal. Beberapa dari saksi mata tersebut bahkan masih mengingat dengan jelas momen mengerikan sekaligus menakjubkan ketika seluruh puncak Gunung Slamet tampak menyala merah membara oleh api vulkanik pada masa-masa letusan tersebut.