Bagi sebagian besar masyarakat Muslim di Nusantara, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU), suara dentuman bedug yang berpadu dengan ketukan kentong adalah penanda waktu yang menenangkan. Merujuk pada Ensiklopedia Nahdlatul Ulama: Sejarah, Tokoh, & Khazanah Pesantren (2014), instrumen ini lebih dari sekadar alat dari kayu dan bambu. Keduanya telah digunakan di hampir seluruh masjid sejak Islam datang ke Nusantara, sering kali menjadi kompas bagi para pengelana masa lalu untuk menandai adanya kehidupan serta tempat bersujud di suatu desa.
Namun, eksistensi instrumen peninggalan masa lalu ini tidak selalu berjalan mulus. Ada sejarah panjang tentang asimilasi budaya, perdebatan teologis, hingga perlawanan kultural di balik sebuah bedug dan kentong masjid.
Misteri Asal-Usul dan Ragam Bentuk Bedug
Menurut Ensiklopedia NU (2014), hingga kini asal-usul pasti bedug belum diketahui secara empiris. Ada ahli yang memperkirakan instrumen ini merupakan pengaruh dari Tiongkok atau India, namun banyak pula yang meyakini bahwa bedug adalah mahakarya kreativitas asli Nusantara.
Bentuk bedug pun tidak seragam, melainkan menyesuaikan dengan akar budaya lokal setempat:
- Gaya Jawa: Berbentuk bulat pendek menyerupai drum, biasanya digantung di serambi masjid. Di masa lalu, diameternya bisa mencapai dua meter karena dibuat dari kayu utuh. Kini, ukurannya menyusut menjadi sekitar 1 hingga 1,5 meter akibat kelangkaan kayu.
- Gaya Sumatera & Jawa Barat: Memiliki bentuk memanjang yang lebih mirip kendang, umumnya terbuat dari batang pohon palem. Bedug model ini biasanya diletakkan di atas penyangga berwujud kaki, bukan digantung.
Sahabat Setia Bedug: Kentong Bambu dan Kayu
Di samping bedug, masjid umumnya selalu berdampingan dengan kentong (atau kenthong). Jika bedug eksklusif hanya terpasang di masjid, kentong memiliki jangkauan ruang yang lebih luas karena turut dipasang di mushola, langgar, atau surau.
Alat musik ritmis ini terbuat dari bambu atau batang pohon, dengan proses pembuatan yang bervariasi:
- Kentong Bambu: Pembuatannya sangat sederhana. Perajin cukup mengambil satu ruas bambu tua berukuran besar, lalu melubanginya memanjang sekitar 2 hingga 4 cm. Karena ruang di dalam bambu tersebut hampa, pukulan sebilah kayu kecil akan menghasilkan resonansi bunyi yang sangat keras.
- Kentong Kayu: Memiliki prinsip yang sama, namun pembuatannya jauh lebih rumit dan memakan waktu. Pembuat harus mengeluarkan bagian dalam batang pohon untuk membentuk ruang resonansi yang menyisakan celah lebar. Ukurannya pun sangat bervariasi, tergantung pada besar dan panjang gelondongan kayu yang digunakan.
Fungsi Kentong ternyata melampaui panggilan ibadah. Alat ini adalah pusat informasi masyarakat. Selain menandai waktu shalat, berbuka puasa, atau bersahur, Kentong juga menjadi undangan berkumpul. Bahkan, jika dipukul dengan sangat keras dan terus-menerus bertalu-talu, bunyinya beralih fungsi menjadi alarm pertanda adanya ancaman atau marabahaya di kampung tersebut.
Simfoni Waktu: Kode, Irama, dan Pantangan
Harmoni antara Kentong dan bedug tidak dibunyikan secara serampangan. Ada irama, kode, dan pantangan yang menyertainya di tengah masyarakat:
- Kolaborasi Kentong dan Bedug: Untuk menandai masuknya waktu sembahyang, Kentong selalu dipukul terlebih dahulu, baru disusul oleh bedug, dan diakhiri dengan kumandang azan. Di beberapa tempat, penggunaan bedug dan Kentong secara bersamaan hanya dilakukan pada waktu Subuh dan Maghrib. Sementara untuk pertanda masuknya waktu Isya, Zuhur, dan Ashar, cukup ditandai dengan pukulan Kentong saja.
- Kode “Satu Unggahan”: Pemukulan bedug memiliki ritme khusus. Diawali 9 ketukan pada pantek (paku kayu) di bibir bedug, dilanjutkan 15 pukulan pada bagian kulit bedug, dan ditutup dengan 3 ketukan kembali pada pantek kayu.
- Sakralnya Hari Jumat: Menjelang shalat Jumat, bedug dipukul secara bergantian oleh pemuda yang mahir selama setengah jam penuh (pukul 11.30 hingga 12.00) dengan durasi sekitar 12 unggahan.
- Pantangan “Wayah Bedug”: Terdapat waktu khusus di mana bedug dipukul pada pukul 12.00 siang saat matahari berada persis di puncak. Di momen ini, sembahyang justru dimakruhkan. Masyarakat sering memperingatkan anak-anak agar tidak keluar rumah atau mencari ikan saat “wayah bedug” agar terhindar dari bahaya, hingga waktu lingsir (matahari condong) tiba.
Badai Sejarah: Dianggap Bid’ah, Digudangkan, dan Tergeser Teknologi
Catatan Ensiklopedia NU (2014) merekam bahwa posisi bedug dan Kentong sebagai sarana syiar Islam mulai mendapat tantangan seiring munculnya gerakan Islam modernis. Kelompok ini menolak penggunaannya dengan alasan instrumen tersebut tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW, sehingga diklaim menyimpang dan harus dihilangkan. Puncak dari gesekan ini terjadi di Masjid Kauman, Keraton Yogyakarta, di mana bedug pusaka disingkirkan atas desakan K.H. Ahmad Dahlan.
Nasib kedua alat ini makin terpinggirkan ketika NU ditekan oleh rezim Orde Baru dan masuknya teknologi pengeras suara (speaker). Pemerintah saat itu mendorong program pengadaan pengeras suara secara masif. Akibatnya, bedug bersejarah di banyak masjid diturunkan dan digudangkan. Posisi Kentong pun sedikit demi sedikit ikut tergeser.
Melihat hal ini, kalangan NU melakukan respons balasan. Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin pada 1936 kembali mengukuhkan penggunaan bedug dan Kentong. Lambat laun, bedug bahkan mulai digunakan untuk membuka acara resmi negara. Presiden Soeharto pun kala itu harus mempelajari irama bedug saat membuka acara-acara nasional seperti muktamar NU atau Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Di berbagai tempat, Kentong dan bedug pun pada akhirnya tetap dipertahankan dan digunakan berdampingan dengan pengeras suara.
Teladan Toleransi dari Kiai Hasyim Asy’ari
Di balik ketegasan menjaga tradisi bedug dan Kentong, terdapat kisah toleransi luar biasa dari Kiai Hasyim Asy’ari.
Pada tahun 1926, Kiai Hasyim sempat menulis artikel ketidaksetujuannya terhadap penggunaan Kentong sebagai tanda shalat. Pendapat ini dibantah oleh ulama senior Gresik, Kiai Faqih, yang menggunakan prinsip qiyas.
Kiai Hasyim kemudian mengundang para ulama ke Jombang, membacakan kedua argumen tersebut secara terbuka, dan mengumumkan: “Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar, tetapi saya mendesakkan bahwa di pesantren saya Kentong tidak dipergunakan.” Sikap saling menghormati ini berbalas manis. Tiga hari sebelum Kiai Hasyim berkunjung ke Gresik pada peringatan Maulid Nabi, Kiai Faqih menginstruksikan seluruh masjid dan mushala setempat untuk sementara menurunkan Kentong demi menghormati sang tamu.
Perlawanan Kultural dari Tanah Banyumas hingga Sentra Keniten
Di era yang lebih kiwari, saat bedug di masjid-masjid kota besar perlahan surut, gerakan pelestarian justru menguat dari akar rumput. Buku Ragam Ekspresi Islam Nusantara (Abdurrahman Wahid dkk., 2008) merekam upaya K.H. Ahmad Sobri, Pengasuh Ponpes al-Falah Tinggarjaya di Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.
Sebagai bentuk perlawanan kultural agar syiar peninggalan Wali Songo tidak raib, Kiai Sobri menginisiasi pembuatan bedug raksasa. Bedug terbesarnya memiliki diameter muka 315 cm, dan ada pula Bedug Wulung Mangunsari yang dentumannya bisa terdengar hingga radius 5 kilometer tanpa bantuan speaker. Proses pembuatannya sangat spiritual: selalu dimulai pada hari Rabu, dikerjakan malam hari usai shalat tahajjud, dan para pekerja dilarang batal wudu saat memasang welulang (kulit).
Selain pesantren, pelestarian ini juga digerakkan secara masif oleh para perajin lokal. Titeni bae (ingatlah/perhatikanlah), tradisi ini akan terus bertahan hidup di tangan masyarakat. Hal ini terbukti di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, yang kini tersohor sebagai sentra produksi bedug dan rebana.
Kerajinan di Keniten menjadi denyut nadi perekonomian desa, terutama menjelang bulan Ramadhan. Para perajin konsisten memproduksi bedug berkualitas dari kayu trembesi dan kulit sapi pilihan. Karya mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan masjid di eks-Karesidenan Banyumas, tetapi juga dikirim jauh ke Jakarta, Sumatera, hingga Kalimantan. Kehadiran sentra industri di Keniten ini memastikan bahwa harmoni bedug dan Kentong akan terus menggema di berbagai penjuru Nusantara.