Fenomena Calon Rektor Ali Rohman Adalah Akumulasi Nilai dan Harapan Publik terhadap Unsoed

PURWOKERTO – Tahap pertama pemilihan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tahun 2026 ini menjadi momentum penting, tidak hanya bagi sivitas akademika, tetapi juga bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Sebab sejak awal berdirinya, Unsoed tidak pernah berdiri sebagai menara gading akademik semata, melainkan kampus yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyumas dan sekitarnya yang tumbuh, hidup, dan memberi makna bagi lingkungan sosialnya.

Hal tersebut disampaikan Oleh Salsabila Hasna Huwaida alumni Unsoed yang juga (Direktur advokasi dan Litbang TRIBHATA), dalam pandangannya terhadap dinamika pemilihan rektor Unsoed yang dinilainya sarat makna dan nilai historis, terlebih karena Unsoed mengusung nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman simbol kepemimpinan yang membumi, berani, dan penuh pengabdian.

Menurut Salsa, hasil pemilihan tahap Senat Akademik Universitas telah menghadirkan fenomena penting yang patut dicatat dalam sejarah Unsoed. Berdasarkan pemberitaan sebelumnya hasil pemungutan suara, Prof. Ahmad Shodiq memperoleh 38 suara (47,5%), Prof. Ali Rohman 36 suara (45%), Prof. Adi Indrayanto 3 suara (3,75%), dan Dr. Khavidz Faozi 2 suara (2,5%). Selisih yang sangat tipis ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat sosok Prof. Ali Rohman yang bukan anggota Senat Akademik Universitas dan berada di luar lingkaran struktural utama kampus.

“Ini bukan sekedar kontestasi angka.Ini adalah akumulasi nilai dan harapan yang terbaca oleh sivitas akademika,” Ujar Salsa.

Salsa menilai, capaian Prof. Ali Rohman mencerminkan akumulasi kepercayaan yang dibangun melalui integritas personal, konsistensi akademik, keterbukaan komunikasi, serta kemampuan menghadirkan kepemimpinan yang tidak elitis. Dukungan yang nyaris menyamai incumbent menunjukkan bahwa kampus sedang mencari figur pemimpin yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga memiliki legitimasi dan kedekatan sosial.

Dalam konteks Unsoed sebagai kampus masyarakat, Salsa menegaskan bahwa kepemimpinan ke depan harus mampu membaur dan bersinergi dengan masyarakat, memahami denyut sosial Banyumas, serta menghadirkan kebermanfaatan nyata. Rektor Unsoed, menurutnya, tidak cukup hanya memimpin dari ruang rapat, tetapi harus hadir sebagai figur yang dirasakan oleh publik.

” Unsoed ini juga milik masyarakat. Maka wajar jika harapan publik juga besar. Rektornya harus bisa berbaur, mendengar dan hadir ditengah masyarakat. Itulah ruh Unaoed sejak awal berdiri.”

Lebih jauh, Salsa mengaitkan fenomena ini dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kepemimpinan Soedirman bukan kepemimpinan yang berjarak, melainkan kepemimpinan yang tumbuh bersama rakyat, sederhana, dan tahan uji. Nilai itulah yang seharusnya terus hidup dalam kepemimpinan Unsoed.

“Ketika figur yang tidak diuntungkan secara struktural mampu memperoleh dukungan yang besar, itu tanda bahwa semangat Jenderal Soedirman Keberanian, ketulusan dan pengabdian masih dicari dan diharapkan.” Ujar Salsa.

Menjelang tahapan lanjutan pemilihan rektor bersama Menteri yang direncanakan berlangsung pada April mendatang, dengan komposisi 80 suara Senat (65%) dan 43 suara Menteri (35%) dari total 123 suara, Salsa berharap seluruh pemangku kepentingan melihat proses ini secara jernih dan utuh. Ia menekankan pentingnya memilih pemimpin yang mampu menjaga marwah akademik sekaligus memperkuat hubungan Unsoed dengan masyarakat.

Unsoed membutuhkan pemimpin yang berani membawa pembaruan, memiliki legitimasi moral, dan mampu melanjutkan misi Panglima besar Jenderal Soedirman. Fenomena Prof. Ali Rohman menunjukkan bahwa nilai-nilai itu masih dipercaya dan hidup di tengah kampus dan masyarakat,” pungkas Salsa Bila Hasna Huwaida..